Mengintip Pengelolaan Hutan Milik Masyarakat


Hari masih Pagi, tapi masih membuat Nasir (41 th) bergairah untuk berbenah diri. Beberapa peralatan seperti parang dan pacul telah disiapkannya. Tak lupa Ia menyerumput kopi setengah manis buatan Ida isterinya di meja tamu. Parang diselip di pinggang sedang pacul dipanggul di bahu. Dengan santai pria berkumis tebal ini menuju kebun jati yang terletak 30 meter dari rumahnya.

Kegiatan ini dilakoni Nasir setiap akhir pekan. “Di luar hari Minggu, saya manfaatkan untuk merawat tanaman palawija seperti jagung, ubi dan tanaman jangka pendek lainnya,”kata Nasir saat ditemui di kebun jati miliknya di Desa Aoreo Kecamatan Lainea, Kabupten Konawe Selatan.

Sebelum berbincang panjang lebar Nasir tampak asyik membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar pohon jati miliknya. Saking seriusnya, tak terasa bulir keringat yang menempel di dahinya ini mulai berjatuhan.

Nasir memang begitu perhatian besar pada pohon-pohon jati tersebut. Jati dirawatnya sejak kecil. Pohon jati tersebut warisan orang tuanya, La Ido, yang telah meninggal dunia sejak 12 tahun silam. Ada sekitar dua ratus batang pohon jati tumbuh subur di atas lahan 300 meter persegi. Tanaman jati di tanam sejak tahun 1978. Tak heran bila kini batangnya telah besar-besar.

Memberi perhatian besar pada jati tentu ada sebabnya. Harga jati yang mencapai 3 juta rupiah per kubik menjadi alasan utama Nasir. Jaminan harga setinggi ini diberikan Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL), sebuah lembaga koperasi yang mengkhusus pada pembelian kayu legal milik masyarakat. Namun harga itu hanya berlaku bagi anggota koperasi saja. Nasir sendiri ikut terdaftar dalam KHJL. “Jaminan harga setinggi ini tak pernah kami dapat sebelumnya,”katanya.

Jauh sebelum koperasi terbentuk, Nasir sempat menjual jatinya kepada pengusaha lokal dengan harga sangat murah dihargai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per kubik. Bahkan beberapa kali dia sempat menjual perbatang yang harganya Rp 10.ribu perbatang.

KHJL sendiri merupakan organisasi rakyat berbadan hukum. Awalnya beranggotakan 196 petani jati di 12 desa di Kabupaten Konawe Selatan. Seiring proses waktu anggota KHJL pun bertambah dan kini jumlahnya sebanyak 274 anggota dengan jumlah desa tetap 12 desa.

KHJL sendiri telah memperoleh sertifikasi Smart Woods dari FSC (Forest Stewardship Council). Memperoleh sertifikat dunia tentu tidaklah mudah. Harus melalui proses panjang untuk membuktikannya. KHJL membutuhkan dua tahun bekerja hingga memperoleh sertifikat ekolabel kayu dunia.

Warga yang tergabung dalam KHJL membuktikan dengan mengelola areal lokasi seluas 152,35 Ha kawasan kebun hutan jati yang terdapat di 12 desa di Kabupaten Konawe Selatan.

Diungkapkan Nasir, banyak hal positif Ia bergabung dalam wadah koperasi. Selain soal harga, kini Nasir juga tahu tentang mekanisme pasar berikut informasi perkembangan harga jati dunia. ”Ini sangat positif bagi kami karena selama ini kami hanya tau harga kayu jati dari pembeli kayu maupun bisikan orang-orang,”kata Nasir.

Hal positif yang lain adalah Nasir mendapat pengetahuan baru tentang sistem pengelolaan jati secara legal atau resmi dan lestari. “Koperasi memberi persyaratan ketat bagi saiapa saja yang mau bergabung. Diantaranya koperasi mewajibkan kami untuk menanam kembali tanaman dengan prinsip yang diterapkan tebang satu tanam sepuluh,”kata Nasir sambil tersenyum.

Sistem lacak balak

Penggunaan Global Possioning System (GPS) ”Selama ini, saya asal menebang saja. Tapi setelah bergabung dengan koperasi saya menjadi tahu sistem menebang yang baik,”kata Nasir. Saat ini luas areal kebun jati yang diinisasi koperasi kurang lebih 219 hektar.(Yos)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

untungk mengatakan...

Lacak balak kok gak lengkap nih... biar lebih bisa dimengerti wat yg baca.