Nobel bagi Perdamaian Iklim


Tahun ini panitia Nobel Perdamaian yang memberikan hadiah Nobel bagi Al Gore dan badan PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change, menoreh sejarah baru.

Secara tradisional Nobel Perdamaian diberikan kepada aktivis yang menciptakan iklim perdamaian. Namun, kali ini diberikan kepada aktivis yang mendorong perdamaian iklim. Dua pengecualian sebelumnya adalah Nobel Perdamaian tahun 2004 kepada aktivis lingkungan Kenya, yaitu Wangari Maathai, dan Nobel 2006 kepada ekonom Banglades, Muhammad Yunus.

Pro dan kontra, kontroversi dan konflik politis isu pemanasan global dan perubahan iklim menunjukkan sebuah kesepakatan global mengenai perubahan iklim Bumi dan cara mengatasinya masih jauh dari kenyataan.

Al Gore adalah aktivis lingkungan. Setelah keluar dari kancah politik AS, ia menunjukkan keseriusannya dalam mengampanyekan perubahan iklim atau pemanasan global serta dampak yang ditimbulkan. Perannya sebagai politikus dunia yang berpengaruh membawa perubahan pengertian dan pemahaman yang jauh lebih besar dibandingkan dengan upaya tradisional lain selama ini.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) adalah badan PBB yang berfungsi melakukan kompilasi dari kajian ilmiah ilmuwan dunia untuk meletakkan dasar dari perubahan iklim, termasuk dasar ilmiah, program adaptasi, dan mitigasinya.
Pemanasan dan perdamaian. Hadiah Nobel 2007 memberi angin segar bagi kampanye perubahan iklim.

Ditengarai, pada masa datang perubahan iklim dan pemanasan global akan menjadi sumber konflik baru yang mengancam perdamaian dunia. Faktor lingkungan dan kesejahteraan merupakan sumber friksi dan konflik antarberbagai negara. Misalnya, peningkatan frekuensi gelombang panas yang melanda Eropa serta siklon kategori lima yang menghantam benua Amerika dan Asia Timur.

Sementara itu, semakin banyak negara yang terancam eksistensi kedaulatannya menyangkut teritorial, ketahanan pangan, dan energinya terpaut isu ini. Tak heran jika Inggris berusaha memasukkan isu pemanasan global dalam agenda Dewan Keamanan PBB. Selain itu, ada juga upaya Singapura yang ingin mengangkat isu asap lintas batas dalam agenda PBB.

Isu pemanasan global pertama kali diangkat oleh sebuah tulisan ilmiah Arrhenius 1896 di Philosophical Magazine and Journal of Science. Disebutkan, ada indikasi kuat dari peningkatan gas buang CO2 menuju pemanasan Bumi. Gas buang itu terutama dihasilkan dari konsumsi energi dan proses industri di pabrik.

Hampir satu abad kemudian penduduk Bumi mulai menyadari kebenaran hipotesa itu dan membuat suatu traktat protokol yang dikenal sebagai Protokol Kyoto pada musim gugur 1997 setelah melalui perjuangan panjang dan setelah disadari bahwa isu ini menyangkut kehidupan keseluruhan planet Bumi, satu-satunya planet yang masih layak didiami hingga saat ini.

Implementasi Protokol Kyoto tak semudah yang diperkirakan. Berbagai blok negara terbentuk untuk lebih memperjuangkan kepentingan nasional dibandingkan dengan kepentingan global Bumi. Di sini terlihat, kesepakatan atau perdamaian dalam isu global masih merupakan utopia belaka.

Saat ini diperkirakan hingga akhir era Protokol Kyoto, tahun 2012, tak akan ditemukan keberhasilan nyata di lapangan sehingga perdebatan akan era setelahnya (pasca-Protokol Kyoto) telah dimulai.

Para pemerhati lingkungan dan ilmuwan perubahan iklim tak dapat berbuat banyak tanpa ada bantuan propaganda besar-besaran akan proses dan akibat dari pemanasan global. Hingga kini IPCC telah menerbitkan laporan kajian (assessment report) ke-4.

Pengertian mendasar akan isu itu telah meningkat tajam dalam dua dekade ini. Namun, tingkat kepedulian dan keawaman publik masih amat rendah. Belum lagi upaya dari aktivis yang kontra terhadap isu ini dan politisi dunia yang acuh tak acuh terhadapnya.

Coba bayangkan bagaimana jika seorang presiden negara adikuasa bergeming, bahkan menentang Protokol Kyoto demi kepentingan bisnisnya. Ironisnya, pengampanye pemanasan global sekaligus pemenang hadiah Nobel tahun ini juga berasal dari negara adikuasa itu. Jadi tepat sekali pilihan panel Nobel Perdamaian tahun ini. Diharapkan kombinasi Al Gore dan Nobel dapat membawa kesepahaman para politisi dunia akan isu iklim.

Isu pemanasan global selain membutuhkan kesadaran serta pemikiran global juga tingkah laku lokal sehari-hari (think globally but act locally). Dibutuhkan kesadaran publik yang luar biasa untuk mengerem laju konsumsi dan produksi manusia ke tingkat yang tidak membahayakan Bumi. Seperti Mahatma Gandhi berkata, Bumi ini cukup untuk kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak cukup untuk semua keinginan manusia.

Maka, sebaiknya mengonsumsi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan (consume what you need not what you want). (Edvin Aldrian)*

*Peneliti Madya Meteorologi UPTHB–BPPT; Kontributor
Referensi IPCC 2007
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: