BMG: Waspadai 32 Titik Rawan Banjir Jakarta

Bahaya Banjir

Jakarta, Greenblog- Badan Meteorologi dan Geofisika atau BMG meminta masyarakat mewaspadai 32 titik rawan banjir pada musim hujan. Kepala Bidang Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara BMG Endro Santoso yang dihubungi di Jakarta, Jumat (9/11), menjelaskan, daerah rawan banjir terdapat di semua wilayah Jakarta.

Kondisi paling rawan, menurut Endro, akan terjadi sekitar bulan Januari 2008. Namun, masyarakat diminta waspada sejak Desember 2007 hingga Februari 2008. Secara umum, curah hujan dalam triwulan tersebut diprakirakan berada di atas 300 milimeter per bulan sehingga potensi genangan dan banjir harus diwaspadai. Endro menegaskan, kewaspadaan mutlak diperlukan menghadapi hujan dengan intensitas tinggi.

Permukiman liar

Gambaran lain yang juga harus menjadi perhatian adalah kondisi Waduk Pluit di Penjaringan, Jakarta Utara, yang makin memprihatinkan karena dipenuhi permukiman liar. Padahal, Waduk Pluit merupakan salah satu pengendali banjir.

Waduk Pluit kini semakin sempit karena dikepung sekitar 10.000 bangunan liar. Luas waduk yang semula 80 hektar itu kini telah menyusut menjadi 65-70 hektar. Waduk juga mendangkal akibat sampah.

Kepala Sub-Dinas Pengembangan Sumber Daya Air dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta I Gde Nyoman Soewandhi mengakui adanya penyusutan lahan itu. Areal seluas sekitar 10 hektar di antaranya telah ditimbun, lalu dijadikan rumah tinggal.

Membangun gubuk baru

Fenomena pembangunan rumah itu tidak berhenti. Kemarin, sejumlah warga sedang membangun gubuk baru atau merenovasi dan memperluas bangunan lamanya. Karno (40) justru memperpanjang bangunan rumahnya yang tersusun dari batu bata merah. Bangunan berukuran 6 meter x 15 meter itu disekat menjadi beberapa kamar untuk tempat indekos.

Tidak hanya menggerogoti sisi waduk, bangunan liar juga tumbuh di atas saluran air dari sisi utara, selatan, barat, dan timur. Tiang-tiang penyangga bangunan rumah itu menutup saluran gendong (lebarnya 2 meter dan dalamnya tinggal 1 meter) sehingga air sulit mengalir ke laut. Gambaran itu terlihat sepanjang lebih dari 2 kilometer.

Lurah Penjaringan Budi Santoso mengaku kewalahan menghadapi ribuan pemukim liar itu. Ia mengakui, setiap hari selalu berdiri bangunan baru tanpa izin di areal pengendali banjir, yang populer disebut lahan kopro banjir atau komando proyek pencegahan banjir.

Gambaran yang sama juga terlihat di Waduk Melati, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pantauan, Jumat, luas Waduk Melati tinggal sekitar 2.500 meter persegi atau hanya seperempat hektar, padahal dulu luas waduk untuk tangkapan air ini mencapai 15 hektar.

"Waduknya memang mengecil. Awalnya mungkin karena banyak sampah dan didiami penduduk. Beberapa tahun lalu permukiman kumuh di sekitar waduk digusur. Waduk pun dibentengi turap beton sekarang," kata Maulana Iskak (53), warga Kebon Melati I.

Warga yang bermukim di Waduk Melati menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya mengusir pemukim-pemukim liar yang mendirikan rumah di areal waduk. Adapun pengusaha besar yang membuka usaha di atas areal waduk (yang telah diuruk) seperti diberi tempat.

Di atas lahan seluas 5 hektar eks Waduk Melati saat ini telah berdiri mal, apartemen, serta galeri untuk usaha kecil menengah. Di kawasan itu juga sedang dibangun kompleks apartemen, hotel, perkantoran, dan pusat perbelanjaan lainnya. Akibatnya, banjir terus mendera Jakarta karena kehilangan kawasan penampung air. Antisipasi yang dilakukan hanyalah perbaikan pompa.

Kepala Tata Air Suku Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Barat Heryanto ketika dihubungi mengatakan, untuk menekan banjir di Jakarta Barat, dibutuhkan dana Rp 10 miliar. Dana itu untuk membiayai langkah darurat pengerukan beberapa bagian dari enam kali yang kondisinya sudah parah. Enam dari 16 kali di Jakarta Barat tersebut adalah Kali Grogol, Kali Sekretaris, Anak Kali Sekretaris, Kali Duri, Kali Banjir Kanal Barat, dan Kali Angke.(ONG/CAL/NEL/WIN/KCM)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: