Langsung ke konten utama

Tindak Kriminal Lingkungan Hasilkan 31 Miliar Dolar AS

Denpasar,Greenblog-Seorang pakar Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) mengatakan, tindak kriminalitas di bidang lingkungan hidup meningkat di berbagai negara dan bahkan menghasilkan untung yang terbesar kedua di dunia setelah perdagangan ilegal narkoba.

"Para sindikat kriminal internasional memperoleh 22 hingga 31 miliar dolar AS per tahun dari tindak kriminalitas lingkungan hidup yang mereka lakukan, seperti pembuangan (dumping) limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), perdagangan ilegal bahan perusak ozon (ODS), dan penyelundupan serta perdagangan flora dan fauna yang dilindungi," kata Atul Bagai, koordinator pada kantor regional UNEP untuk Asia dan Pasifik di Sanur, Bali, Minggu.

"Ada hubungan yang kuat antara tindak kejahatan lingkungan hidup dan terorisme. Para teroris dapat memperoleh uang yang banyak dari tindak kejahatan ini, apa lagi pengawasan perdagangan ilegal narkoba kini makin ketat," kata Atul Bagai seperti yang dilansir Kantor Berita Antara.

Para penjahat mengambil keuntungan dari kurangnya pengetahuan petugas bea cukai tentang limbah B3, ODS serta sumber daya alam yang dilindungi, katanya.

UNEP dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia menyelenggarakan lokakarya regional untuk petugas bea cukai dan petugas Ozon se-Asia dan Pasifik di Sanur, Bali, 12-14 November 2007.

Sementara itu, pihak bea cukai Indonesia berhasil menyita 40 metrik ton CFC-11 (Trichloromonofluoromethane atau freon 11) dan CFC-12 (Dichlorodifluoromethane), dua jenis ODS, dari pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Oktober lalu, menurut Tony Riduan Simorangkir, kepala seksi intelijen pada Direktorat Bea dan Cukai.

CFC-11 dan CFC-12 tersebut diimpor dari Qing Dao Port, China, dengan negara transit Singapura, dan dipalsukan dalam dokumen sebagai HCFC-141b, yang aman terhadap lingkungan, ujar Tony, pada hari Sabtu, ketika berbicara pada Dialog Khusus Mengenai Tindakan Potensial untuk Mengawasi dan Mengontrol Perdagangan ODS di Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang diselenggarakan KLH disela-sela lokakarya UNEP tersebut.

Dialog tersebut dihadiri oleh para pimpinan perusahaan pengimpor CFC dan metil bromida di Indonesia, wakil-wakil negara produsen dan pengekspor ODS seperti China, India dan Korea, negara transit pengapalan CFC yaitu Singapura dan Malaysia, serta beberapa lembaga pelaksana Dana Multilateral Protokol Montreal antara lain UNEP, UNDP, UNIDO dan Bank Dunia.

Pada Lokakarya Jaringan Penegakan Perjanjian Lingkungan Hidup Internasional se-Asia dan Pasifik, yang diselenggarakan UNEP, KLH dan Pemerintah Swedia, di Sanur, 8-10 November 2007, Indonesia menyampaikan rencananya untuk melarang impor CFC (kloroflurokarbon) dan metil bromida, yang merupakan ODS, mulai 1 Januari 2008.

UNEP memuji rencana Indonesia tersebut sebagai langkah besar dan proaktif karena pelarangan CFC tersebut diambil dua tahun lebih cepat dari tenggat waktu yang ditetapkan oleh Protokol Montreal tentang penghapusan ODS pada 2010, sementara untuk pelarangan metil bromida adalah tujuh tahun lebih cepat dari tenggat waktu Protokol Montreal pada 2015. Indonesia meratifikasi Protokol Montreal pada 1992.

CFC adalah salah satu ODS yang memicu penipisan lapisan Ozon sehingga dapat menyebabkan meningkatnya radiasi UV-B di Bumi. Penipisan lapisan Ozon dapat menyebabkan penyakit kanker kulit, katarak mata, dan menurunnya kekebalan tubuh terhadap penyakit.(WAN/AN)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

ACARA GREEN FESTIVAL 2008

Jalan Masuk

Acara Green Festival 2008 sendiri akan mengambil tempat di Parkir Timur Senayan. Dari layout gambar yang dirilis panitia, pintu masuk Greenfest berada di sisi utara Parkir Timur Senayan, sedangkan panggung utama berada di ujung selatannya (membelakangi jalan raya Sudirman).


Untuk mempermudah akses masuk ke Green Festival, Anda disarankan masuk ke komplek Senayan melalui Century Atlit (Jl Pintu 1) atau TVRI (Jl Gerbang Pemuda) untuk selanjutnya langsung menuju Parkir Timur Senayan.

Pentas Musik
- T ai ko Jepang (alat tabuh): Jumat 16.10
- Choir Kid Purwacaraka: Jumat 16.25
- Capoeira: Jumat 19.05
- Nugie: Jumat 20.10
- Letto: Jumat 20.45
- SD Citra Indonesia : Sabtu 10.30
- Dwiki & The Next Gen: Sabtu 13.25
- SD & SMA Harapan Bangsa: Sabtu 14.25
- Nabila & Smart: Sabtu 15.45
- Ulli Sigar Rusady & Super Bintang: Sabtu 19.05
- Maliq & d'Essentials: Sabtu 19.25
- Marcell: Sabtu 20.15
- Ta ta loe: Minggu 10.30 & 17.00
- Bina Vokalia: Minggu 1…

Negara Kepulauan Tuntut Amandemen Protokol Kyoto

Tuvalu, salah satu negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Foto : Google.

Kopenhagen, BL-Di tengah negosiasi yang alot COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Tuvalu dan sejumlah negara kepulauan menuntut Amandemen Protokol Kyoto dalam pertemuan Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP) di Bella Center kemarin.

Pertemuan itu membahas amandemen annex B, sebagai bagian dari periode kedua dari komitmen Protokol Kyoto. Tuvalu, salah satu negara kepulauan Pacific yang mendukung pelaksanaan mengusulkan amandemen target menjaga tingkat kenaikan suhu bumi di bawah atau tak lebih dari 1,5 derajat selsius dan konsentrasi gas rumah kaca tak lebih dari 350 ppm. Lebih tinggi dari kesepakatan sebelumnya, yang hanya 2 derajat celcius.

Hal tersebut dilaporkan Siti Maemunah dari Jatam yang juga turut hadir dalam COP 15 UNFCCC. Menurut Maemuna, Tuvalu adalah salah satu negara kepulauan di Asia pasifik yang harus lintang pukang bertahan hidup aki…