Pembangunan Global Picu Pemanasan Global

Bali,Greenpress,- Model pembangunan global yang selama ini hanya menekankan pada aspek pertumbuhan semata merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global.

Hal tersebut disampaikan Direktur Wahana Lingkungan hidup (Walhi), Khalik Muhammad saat pembukaan strategic meeting nasional yang diselenggarakan CSF yang berlangsung di Inna Putri Bali (1/12).

Menurut Khalik, perubahan iklim yang terjadi saat ini yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan dan kerentanan terutama masyarakat nelayan dan petani.“Jutaan petani akan merasakan dampaknya, apalagi ada upaya pemiskinan. Demikian juga nelayan juga akan merasakan dampaknya akibat kenaikan air laut,”kata Khalik.

Pemanasan global lanjut Khalik terjadi akibat gagalnya pembangunan global yang hanya menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi yang memicu emisi karbon.“Model pembangunan global telah gagal menjamin keselamatan dan kesejahertaan warga dunia secara luas, tidak mampu melindungi produktifitas warga untuk memenuhi syarat-syarat kualitas hidup serta tidak mampu menjamin keberlanjutan alam,”paparnya.

Dikatakan, iklim semakin berubah, dan negara (Indonesia red) menjadi korban kondisi perubahaan iklim, dan hal tersebut akan berdampak dengan kemiskinan masyarakat.”Para petani semakin susah menentukan waktu tanam dan panen akibat pemanasan global,”ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Khalik juga menyoroti agenda yang akan diusung pemerintah dalam Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) yang hanya berfokus pada isu karbon trade, adaptasi dan mitigasi serta cost 2012. Sementara subtansi keadilan iklim digeser kepada perdagangan karbon yang belum jelas manfaatnya bagi masyarakat.

Menurutnya, pemerintah atau delegasi Indonesia tidak perlu lagi mengurus perdagangan karbon tetapi bagaimana pemerintah Indonesia mendorong negara maju untuk menurunkan emisi secara dratis.

Padangan serupa juga disampaikan Elisha Kartini dari Federasi Sekitar Petani Indonesia (FSP). Menurutnya, perlu ada perubahan mendasar bagi pembangunan global.”Negara berkembang jangan hanya dijadikan sumber bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industri negara maju yang pada akhirnya hanya menguntungkan negara maju, sementara sumber daya alam negara berkembang makin merosok,”ujarnya.

Seraya mencontoh salah bukti ketidak adilan global. Belgia yang selama ini terkenal sebagai negara penghasil coklat atau kakao, ternyata di sana tidak ada satupun pohon tanaman kakao ditanam.”Semuanya berasal dari Indonesia, lalu disana dikelola menjadi barang jadi, lalu selanjutnya dijual lagi ke Indonesia dengan harga yang cukup mahal, demikian juga dengan kebijakan impor beras,”paparnya.

Dikatakan, hampir semua kebijakan pemerintah selalu diboncengi negara asing seperti UU Privitasasi Air yang dibuat bukan berasal dari Indonesia tetapi dipengaruhi oleh Bank Dunia.

Dalam kertas posisi masyarakat sipil Indonesia untuk climate change yang disusun CSF dijelaskan beberapa ciri model pembangunan global yang merugikan negara berkembang antara lain, negara Selatan (negara berkembang) tidak akan mampu mencapai tingkat komsumsi masyarakat di Utara (negara maju), akibat jerat utang yang merangkap mereka dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Piutang tersebut juga dipakai bagi negara Utara dijadikan alat pemaksa yang legitimate kepada negara berkembang. Negara berkembang hanya diposisikan sebagai tempat produksi berbiaya murah bagi modal skala penganti negara industri maju dan menjadi surga bagi negara maju dalam memasarkan produksinya yang merugikan lingkungan.

Pembangunan global yang diterapkan negara maju selama ini hanya mengekspolitasi sumber daya manusia negara berkembang melalui praktek industri berbiaya buruh sangat murah guna melayani komsumsi mereka yang sangat boros dan berlebihan.

Sementara dalam aspek lingkungan, pembangunan global yang main oleh para pemiliki modal, cenderung mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan telah menghancurkan wilayah sosio-ekologis negara berkembang.

Buntut dari pembangunan global tersebut semakin memperkaya para pemilik modal di negara maju, sementara mutu hidup masyarakat dan lingkungan hidup negara berkembang makin merosok yang memicu terjadinya kemiskinan dan pemanasan global.

Elisa juga mempertanyakan tekanan negara maju agar negara berkembang termasuk Indonesia agar melindungi hutan, sementara negara-negara industri tidak menghentikan aktivitas industrinya sehingga emisi karbon makin banyak dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya pemanasan global. (Marwan Azis).


Catatan redaksi :
Pemberitaan ini terselenggara atas kerjasama : Perkumpulan Skala, Green Press, LATIN dan Kemitraan.
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: