Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November 20, 2007

Islam dan Lingkungan Hidup

Umat Islam Indonesia Kabar Gembira Bagi Bumi

''Kalau Indonesia dekat, saya datang tiap hari ke sini,'' kata Fazlun M Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) di Birmingham, Inggris. Pekan lalu, kakek enam cucu ini hadir di Indonesia. Berikut sebagian pandangan penyuka masakan padang yang murah senyum itu:

Bagaimana pandangan Anda tentang Indonesia?
Saya pikir Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat internasional. Di luar bencana tsunami, gempa bumi, banjir lumpur, tenggelamnya kapal laut, dan penggundulan hutan, tahun ini Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan. Yang saya maksud adalah keluarnya fatwa mengenai pemanasan global pada pertengahan tahun ini dan dua fatwa pada tahun sebelumnya yang menentang pembakaran dan penggundulan hutan. Menurut saya, fatwa ini sangat luar biasa dan menunjukkan betapa ulama Indonesia telah membuat lompatan maju dibanding ulama di negara Islam lainnya.

Fatwa ini jelas…

Soal Karbon atau Sosial Ekologis?

Hendro Sangkoyo *

Cukup alasan keprihatinan Warga Indonesia dalam
menyambut Konferensi Para Pihak atau COP ke-13 dari
semua negara penyepakat Konvensi Kerangka PBB tentang
Perubahan Klimatik di Bali nanti.

Dalam 10 tahun terakhir, Protokol Kyoto—instrumen
kebijakan Konvensi Kerangka PBB tentang Perubahan
Klimatik (UNFCCC)—telah memberikan jalan keluar bagi
kapital keuangan dan industri, khususnya di negara
industri maju (rombongan negara Annex1) untuk
mempertahankan tingkat emisi karbonnya dengan ongkos
kompensasi semurah- murahnya. Namun, target Protokol
Kyoto sendiri jauh lebih kecil daripada kebutuhan
reduksi emisi menurut pertimbangan Panel
Antarpemerintah untuk Perubahan Klimatik (IPCC).

Ini sama seperti logika mencari upah buruh terendah di
balik gelombang relokasi industri dari negara industri
maju. Ongkos reduksi emisi "lewat cebakan karbon" di
negara non-Annex1, yang hanya sepertiga atau kurang
dibandingkan dengan reduksi "lewat sumber emisi" di
Utara mendo…

UN Climate Change, Bentuk Jalur Karbon

Kompensasi dari adaptasi REDD (reduksi emisi dari pencegahan deforestasi bagi negara-negara berkembang) sangat menggiurkan. Dengan bermodal 144 milliar rupiah untuk penyelenggaraan UN Climate Change di Bali dalam sepekan di Desember nanti, Indonesia berharap untung hingga 33,75 trilliun rupiah pertahun bagi penjagaan kawasan hutan ke depan (Antara, 2007).

Untung ini tidak kecil bagi Indonesia. Bahkan, sebelum Rahmat Witoelar, Nabil Makarim yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup pada pemerintahan Megawati memprediksikan Indonesia bisa mengantongi keuntungan sebesar 18 juta dollar Amerika pertahun dengan hanya menjaga hutan yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara dari kerusakan. Dan sayangnya, Indonesia era itu tidak segera meratifikasi Protokol Kyoto (1997). Dan tidak bisa dibayangkan dampaknya kini, mungkin APBN Indonesia tidak selalu dihantui oleh "defisit anggaran" yang setahun sekali selalu memaksa Pemerintah merevisinya.

Itu jikalau, sedari awal Prokol…

Mari Bicara REDD

M Riza Damanik

Perkara penyelamatan Bumi dari pemanasan global
menjadi rumit karena ternyata skema mekanisme
pembangunan bersih tidak secara spesifik bicara soal
reduksi karbon dari sektor kehutanan dan sampai hari
ini tidak mampu diaplikasikan di sektor kehutanan.
Padahal, hutan masih menjadi andalan utama untuk
menyerap karbon? dalam hal ini karbon dioksida (CO).

Maka, muncul tawaran mekanisme baru, yaitu REDD
(reducing smissions from deforestation and
degradation) , yang diharap mampu menjembatani
mekanisme pembangunan bersih (clean development
mechanism-CDM) dengan penanganan kerusakan hutan
(deforestasi) . Program REDD sendiri menawarkan
kewajiban membayar negara-negara Utara kepada
negara-negara Selatan guna mengurangi penggundulan
hutannya, dan atau negara-negara Selatan juga dapat
menjual kemampuan serap karbon yang dimiliki hutannya
kepada Utara. Dengan skema tersebut, diharapkan
kontribusi emisi dari deforestasi (khususnya pada
hutan hujan tropis) yang mencapai 20 persen dari…

Aksi Greenpeace Dapat Perhatian Pemerintah RI

Riau dikenal propinsi yang kaya sumber daya alam. Namun 25% kebun kelapa sawit Indonesia juga terletak di Riau. Kamis lalu kapal Rainbow Warrior milik LSM lingkungan hidup Greenpeace berupaya menghadang kapal tanker MT Westama, yang mengangkut 30 ribu ton kelapa sawit di pelabuhan Dumai, Riau. Apa tujuan aksi ini? Lalu berhasilkah aksi ini Rangkuman wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan Diederick van Gelder, aktivis Greenpeace yang ikut berlayar atas Rainbow Warrior.

Tujuan aksi ini adalah untuk menjelaskan bahwa cara penanaman kelapa sawit telah melampaui batas. Hutan dan lahan gambut secara besar-besaran dimusnahkan. 40% hutan di Indonesia telah punah, dan 70% hutan rimba, tempat hidup macan Sumatra dan orangutan. Masyarakat yang tinggal di sana memperoleh ganti rugi kecil untuk pindah. Kemudian wilayah tersebut didatangi perusahaan-perusaha an besar yang membakar habis hutan guna menanam perkebunan kelapa sawit. Pancaran gas rumah kaca di kawasan itu sangat tinggi.

Tapi meng…

Ratusan Aktifis Lingkungan Protes Pemberian Ijin Tambang

Kendari,Greenpress-Ratusan aktifis lingkungan hidup dari Koalisi LSM se Kabupaten Kolaka dan mahasiswa, Selasa pagi berunjuk rasa Kantor Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara. Mereka menolak pemberian ijin tambang di hutan konservasi yang dikeluarkan pemerintah kabupaten kolaka.

Massa menganggap kebijakan Bupati Kolaka, Buhari Matta, yang menerbitkan 10 ijin kuasa penambangan nikel di atas lahan seluas 5.230 di Pulau Lemo dan Pulau Padamarang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Tak hanya itu, akibat pemberian ijin penambangan tersebut akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan dan berdampak pada menurunnya pendapatan ekonomi masyarakat di sekitar pulau.

“Yang jelas keputusan pemberian ijin harus ditinjau ulang dan kalau perlu dicabut. Pemberian ijin pengelolaan tambang hanya akan menyengsarakan masyarakat,”kata Jabir, Koorditor aksi penolakan atas penambangan di pulau lemo dan pulau pamarang, Selasa (20/11).

Dalam aksinya massa menyandera mobil m…

Budi Putra, Bangga Berprofesi "Blogger"

Tahun 1996, seusai menyelesaikan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, ia mendapat beasiswa belajar di Jepang. Saat dia berada di Jepang, pesawat Garuda Indonesia DC-10 mendapat musibah, terbelah menjadi tiga bagian di Bandara Fukuoka dan menewaskan tiga dari 261 penumpang yang sebagian besar warga Jepang.

Karena saat itu dia adalah wartawan untuk sebuah harian di Padang, Sumatera Barat, naluri kewartawanannya terpanggil. Ia menulis dan melaporkan peristiwa itu ke koran Singgalang, tempatnya bekerja. Bagi koran daerah, ini berita eksklusif yang dilaporkan langsung on the spot. Ia kirim laporan empat sampai lima kali lewat faksimile yang sangat mahal biayanya.

"Di Jepang internet sudah mewabah, tetapi saya tak tahu bagaimana memanfaatkannya," kenang Budi Putra, si penerima beasiswa, saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta. Akan tetapi, ia segera sadar, "Kalaupun saya bisa memanfaatkannya, apa bisa tersambung ke Padang, wong di Jakarta saja internet m…

Aksi Greenpeace di Riau Dilaporkan ke DPD RI

Medan,Greenpress-Aksi kelompok pencinta lingkungan Greenpeace menghadang kapal tanker sawit di Pelabuhan Dumai, Riau Kamis lalu, dilaporkan ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

"Saya baru dapat laporan dari Gapki tentang tindakan Greenpeace yang sempat meresahkan perusahaan pemilik minyak sawit anggota Gapki di Medan dan saya akan membawa kasus ini untuk dibahas di DPD RI," kata Parlindungan Purba, anggota DPD RI utusan Sumut, di Medan, Senin seperti yang dilansir Kantor Berita Antara.

Menurut dia, DPD merasa perlu membahas kasus itu untuk menghindarkan terulangnya kembali kasus tersebut yang bisa berdampak pada kerugian besar dunia persawitan Sumut dan bahkan Indonesia,

Sementara itu, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Timbas, mengatakan, Gapki akan membuat protes secara resmi terhadap tindakan Greenpeace itu dan tetap berharap pemerintah Indonesia ikut membantu.

Menurut Timbas, pemerintah harus bersikap tegas untuk menyelamatkan perkebunan sawit n…