Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 7, 2007

Franky Sahilatua : Gerakan Bersama Hadapi Climate Change

Aku mau presiden baru..
Yang pandai bekerja bukan hanya janji
Aku mau presiden baru bela rakyat......
Yang punya ketegasan pada pemimpin.

Bali-Sekelumit kritik sosial yang dilancarkan musisi yang dikenal konsen pada lingkungan hidup, Franky Sahilatua. Lagu yang dinyanyikan di Kampung CSF pada acara COP 13, Jumat (7/12), Bali. Dalam seruan damai ini merupakan gerakan sosial yang sering dilancarkan oleh Franky dalam setiap aksi panggungnya.
“Kita mengetahui bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi semakin luas karena kekuasaan para rezim yang tidak mengenal lingkungan, sehingga membuat lingkungan semakin parah. Hutan dibabat tanpa mengenal habitat dan kearifan yang ada di dalamnya,” kata Franky.

Bagi Franky, Indonesia harusnya tidak merasa bangga dengan menjadi konferensi besar tingkat dunia di Bali ini. Adanya acara COP 13 di Bali ini merupakan sebuah wujud representasi dari dunia bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pengerusak hutan.
“Kebiasaan negara ini kan selalu bangga denga…

Hanya Karena Nama, Green Press Tak Dapat Akreditasi

By Hendro Prasetyo, on 04-12-2007 16:15

Nusa Dua, CSOForum-Di era keterbukaan sekarang pers masih saja dihalang-halangi pemberitaannya. Pelakunya tak tanggung-tanggung, panitia United Nations Framework Climate Change Convention (UNFCCC). Contoh paling anyar yaitu ditolaknya akses Green Press meliput acara UNFCCC di Bali.

“Green”, nama yang selalu diasosiasikan dengan Greenpeace, membuat Green Press tak memperoleh akses masuk ke sidang COP 13 Bali. Tak ayal, hal ini mengecewakan beberapa jurnalis Green Press. Padahal, sebagai pengusung demokrasi, PBB secara sepihak telah menolak akses Green Press dengan alasan tidak jelas.

Inilah yang membuat jurnalis Green Press tak habis pikir. Sebuah lembaga ternama dunia ternyata melakukan hal tidak demokratis itu.

Marwan Azis, jurnalis Green Press menuturkan bahwa sedari awal mereka telah melakukan registrasi via email kepada panitia. Hasilnya, mereka dijanjikan akan diberikan kartu identitas. Mereka diberitahu untuk mengambil kartunya di Nusa Du…

* Presiden COP 13 Datangi Kampung CSO

Petani Seruhkan Tolak REDD

Nusa Dua, Presiden Conferensi of the Parties (COP) 13, Rachmat Witoelar pada hari ketiga (6/12) Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) menyempatkan diri mengunjungi kampung CSO (Civil Society Organisation) di Nusa Dua Bali.

Kedatangan Rachmat di Kampung CSO disambut aksi teriakan oleh ratusan petani yang memadati ruang lesehan pertemuan. Mereka meneriakan tolak REDD.”Ayo tolak REDD, tolak REDD,”serunya. Para petani yang berasal datri seluruh Indonesia itu juga membawa poster dan panplet yang intinnya menuntut keadilan iklim dan menolak REDD.

Dalam kunjungannya, Menteri Negara Lingkungan Indonesia itu langsung mengadakan diskusi dan menerima pernyataan sikap beberapa perwakilan aktifis NGO Nasional dan Internasional serta Masyarakat Adat secara bergantian.

Menurutnya, saat ini pihaknya tengah berjuang supaya negara-negara maju mau membayar hutan Indonesia.”Percayalah bahwa ketakutan dan kekhawatiran akan dijaga sejauh mungkin,”katanya.

Karenanya Rachmat mem…

Masyarakat Daerah Tak Paham REDD

Nusa Dua, Greenpress- dibalik menguatnya isu perdagangan karbon yang ramai diskusikan oleh pemerintah dan aktifis di arena konferensi perubahan iklim (UNFCCC) di Nusa Dua, namun ternyata masyarakat masih banyak belum paham soal skema REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation) , padahal mereka paling merasakan dampak perubahan iklim.

“Di masyarakat, tidak ada yang tahu karbon, apa kalo dijual seperti kotak, berapa beratnya, apa bentuknya dan sebagainya?, apa itu REDD, seperti apa bentuknya dan kalau dibayar siapa yang untung?”kata Nuzran Jaher, saat diminta tanggapannya soal REDD dalam workshop yang membahas mendorong mekanisme kompensasi pengurangan emisi di sektor kehutanan yang berkeadilan di Kampung CSO Nusa Dua Bali (6/12).

Menurut anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Jambi ini, ketidak pahaman masyarakat di daerah soal skema REDD disebabkan karena pemerintah pusat tidak pernah melibatkan pemerintah daerah untuk mendiskusikan proposal tersebut.” Ko…

Skema REDD Terus Menui Kritikan

Nusa Dua, Greenpress- Proposal skema reduksi emisi melalui hutan yang dikenal dengan REDD ( Reducing Emission from Deforestation in Developing Countries) yang saat ini tengah didorong pemerintah Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali terus menuai kritikan.

Menurut Deputy Kampanye Hutan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Rully Syumanda, skema REDD yang saat ditawarkan saat ini menguap di forum UNFCC hanya menguntungkan pihak pemerintah dan pengusaha. “Sementara masyarakat tidak memperoleh manfaat, “Kata Rully saat tampil sebagai pembicara Workshop Mendorong Mekanisme Konpensasi di Sektor Kehutanan Berkeadilan di selenggarakan Partnership kerjasama, CSO Network on Forest Governance and Climate Change dan WALHI di Kampung CSF, halaman Bali Tourism Development Center (BTDC), Nusa Dua, Bali.

Pasalnya skema REDD hanya akan diterapkan pada 5 kawasan hutan yaitu hutan produksi, kawasan hutan konservasi atau lindung, hutan gambut, hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan…

Hanya Karena Nama, Green Press Tak Dapat Akreditasi PDF

By Hendro Prasetyo, on 04-12-2007 16:15

Di era keterbukaan sekarang pers masih saja dihalang-halangi pemberitaannya. Pelakunya tak tanggung-tanggung, panitia United Nations Framework Climate Change Convention (UNFCCC). Contoh paling anyar yaitu ditolaknya akses Green Press meliput acara UNFCCC di Bali.

“Green”, nama yang selalu diasosiasikan dengan Greenpeace, membuat Green Press tak memperoleh akses masuk ke sidang COP 13 Bali. Tak ayal, hal ini mengecewakan beberapa jurnalis Green Press. Padahal, sebagai pengusung demokrasi, PBB secara sepihak telah menolak akses Green Press dengan alasan tidak jelas.

Inilah yang membuat jurnalis Green Press tak habis pikir. Sebuah lembaga ternama dunia ternyata melakukan hal tidak demokratis itu.

Marwan Azis, jurnalis Green Press menuturkan bahwa sedari awal mereka telah melakukan registrasi via email kepada panitia. Hasilnya, mereka dijanjikan akan diberikan kartu identitas. Mereka diberitahu untuk mengambil kartunya di Nusa Dua Bali.

Namun, apa …