Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 15, 2007

IEA: Suhu Bumi Naik 6 Derajat Pada 2030

Nusa Dua, Greenpress - Jika tidak ada gerakan pengurangan emisi, pada 2030 dunia akan menghadapi pertumbuhan emisi karbon (CO2) hingga 57 persen dan akan membuat suhu bumi meningkat enam derajat.

"Pada 2005, emisi CO2 dari sektor energi mencapai 30 persen di atas level 1990 dan terus tumbuh tiga persen tiap tahun, meskipun harga BBM naik terus," kata Direktur Eksekutif "International Energy Agency" (IEA,) Nobua Tanaka pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Nusa Dua, Bali, kemarin (14/12) seperti yang dilansir Antara.

Semua pihak, lanjut dia, tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.
Untungnya, lanjutnya, sudah banyak negara yang memiliki rencana kebijakan yang membuat jejak energi tidak mengarah ke perkiraan itu. Karena di bawah skenario kebijakan alternatif itu, meski belum diterapkan, akan membuat stabil emisi global pada 2025 dan mulai menurun setelah itu.

IEA dengan kasus stabilisasi 450-nya sudah menganalisis tujuan ambisius yang akan melindungi …

COP 13 Bali : Gagal Wujudkan Harapan Warga Bumi

Nusa Dua, 14 Desember 2007. Konferensi Perubahan Iklim (COP 13) yang berlangsung sejak 3 hingga 14 Desember akhirnya berakhir tanpa hasil yang awalnya diharapkan bisa menghasilkan hasil kesepakatan negara di dunia untuk mencegah dampak perubahan iklim.


Bagi CSF (Civil Society Forum) gagalnya COP 13 dalam menghasilkan Bali Roadmap merupakan lemahnya bargening tim negosiasi Indonesia dalam UNFCCC. "Hingga saat-saat terakhir perundingan, Indonesia tidak mengambil kesempatan bersejarah untuk memimpin dan bertindak tegas untuk menurunkan emisi yang akan menjamin keselamatan warga di masa depan,"kata Abetnego Tarigan, dari Civil Society Forum.

Indonesia tidak menunjukkan kepemimpinan untuk mengajukan proposal yang bersifat permanen dan jangka panjang dalam penyelesaian krisis, seperti moratorium gambut dan penghentian pembakaran lahan dan hutan.”Sangat disayangkan Presiden COP 13 membiarkan proposal-proposal yang mengancam keselamatan rakyat di masa depan, tetap diluncurkan se…

Posisi Terakhir COP13, Bali

Nusa Dua, Greenpress-Konferensi Perubahan Iklim seharusnya sudah berakhir kemarin,
tetapi sampai hari ini, kelompok2 negara masih berkumpul merumuskan hasil perundingan dan Bali Road Map walaupun dengan jumlah orang yang semakin menyusut terutama dari kalangan observer dan NGO.

Dimulai ketika draft keputusan dikeluarkan dengan beberapa paragraph yang tidak disukai oleh Amerika,terutama untuk poin mitagasi dimana disebutkan secara eksplisit jumlah emisi karbon yang harus diturunkan sebesar 20-45% dari emisi tahun 1990 pada tahun 2020 dan pada poin 1b tentang peningkatan aksi untuk mitigasi perubahan iklim dengan mempertimbangkan "pembatasan emisi nasional yang terukur dan komitmen mereduksi oleh seluruh negara maju..dibawah protokol kyoto dan meyakinkan usaha yang sebanding (ensuring comparability efforts)".

Keluarnya draft tersebut disambut dengan masukan dari berbagai negara yaitu US, G77, Tuvalu, Saudi Arabia dan EU.US menolak pembagian kewajiban mereduksi emisi dibawah pro…

Ada Apa Gerangan: Sekjen UNCCC Menangis?

Nusa Dua, Greenpress-Sekjen UNFCCC Yvo de Boer menangis saat memimpin
sidang. Dia pun langsung walk out. Peristiwa yang
mengejutkan ini terjadi di ruang sidang pleno di
Plennary Hall Bali International Convention Center
(BICC), Nusa Dua, Bali, Sabtu (15/12).

Yvo de Boer berbicara di depan peserta sidang konferensi itu
setelah SBY dan Ban Ki-Moon ke luar arena sidang
setelah menyampaikan pidato.

"Saya kecewa dan dikhianati, karena ada deal-deal di
luar sepengetahuan saya," kata de Boer. Belum
diketahui secara persis apa yang dimaksud 'deal-deal
gelap' yang disampaikan de Boer.

Yang jelas, setelah itu de Boer tampak menangis. Dia
tampak tertunduk dan mengusap matanya. Tak berapa lama
kemudian, de Boer langsung beranjak dari mejanya dan
keluar ruang sidang. de Boer walk out! (detik.com)

Mungkin ada teman-teman yang tahu deal-deal apa yang
sesungguhnya terjadi di belakang konferensi ini?
Mungkin Mas Harry ada info?

G-77 Ganjal Penutupan UNFCCC

Nusa Dua, Greenpress- Walau draft sementara Roadmap Bali sudah dibuat, namun hingga pukul 11.14 WIT, Sabtu (15/12) siang, Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) tak berhasil mengesahkan sekaligus menutup UNFCCC. Konferensi terus-menerus molor dan bertele-tele tanpa diketahui kapan akan ditutup.

Ketua COP 13 Rachmat Witoelar dan Sekretaris Eksekutif Yvo de Boer awalnya membuka rapat di ruang Plenary I pada pukul 11.00 WIT. Namun saat hendak memulai agenda rapat untuk mengesahkan draft Roadmap Bali sekaligus menutup UNFCCC, muncul protes dan interupsi dari delegasi.

Protes dari peserta sidang muncul dari kelompok negara berkembang (G-77) seperti India, China dan Pakistan.

Salah satu keberatan peserta adalah ketidakhadiran ketua kelompok negara berkembang (G-77) + China, Munir Akram. Untuk itu ia meminta agar Rachmat menunda pembukaan sidang seraya menunggu kehadiran Ketua G-77 + China yang dinyatakan masih bernegoisasi.

Protes kedua muncul dari delegasi China. Mereka mempersoal…

AS Berhasil Jegal Bali Roadmap

Amerika Serikat, Kanada dan Jepang yang sejak semula dinilai Climate Action Network berperan destruktif dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali, akhirnya berhasil menjegal tuntutan keadilan iklim, Jumat (14/12) malam. Draft Roadmap Bali hanya berisi pernyataan umum, bukan tuntutan ke negara maju untuk mengurangi emisi karbon 25-40 % pada tahun 2020.

“Menurut perkiraan saya draft yang sampai sekarang masih dibuat, hanya sebatas berisi pernyataan umum. Draft tidak akan mencantumkan temuan saintis (IPPC, red). Terutama sekali tidak akan mengungkapkan apa dampak buruk yang terjadi jika kita terus menunda aksi,” kata Munir Akram, Ketua kelompok Negara Berkembang (G-77) dan China, dalam jumpa pers yang dimulai pukul 20.20 WIT tadi.

Munir sendiri menolak menyebut negara maju yang menolak memasukkan temuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC) dalam pembukaan Roadmap Bali. Namun sebelumnya, AS, Jepang dan Kanada adalah tiga negara yang ngotot untuk menolak rekome…

Peta Jalan Bali Tersandera Negara Maju

Hari ini (14/12) peta jalan bali (Bali roadmap) benar-benar tersandera kepentingan negara-negara maju. Di satu sisi mereka bersedia melakukan transfer teknologi namun di sisi lainnya menolak menyepakati target penurunan emisi.

Seperti biasa negara maju menuntut negara-negara berkembang (seperti China dan India) juga dikenai target yang sama dalam penurunan emisi. Padahal jika yang dihitung adalah emisi GRK per kapita maka negara seperti China dan India masih jauh di bawah Amerika Serikat dan Jepang.Akibatnya, para wartawan di press room mulai gelisah karena jadwal jumpa press yang direncanakan menjadi berantakan.

Indikasi bahwa hasil UNFCCC ini akan tersandera oleh kepentingan negara maju juga nampak dari gencarnya pemasaran produk utang dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan ADB dalam membiayai proyek yang terkait dengan penurunan emisi di negara berkembang, baik yang terkait dengan CDM atau kehutanan.Sebagaimana diketahui Amerika Serikat (AS) adalah pemegang saham…

Negoisasi Alot, Penutupan UNFCCC Molor

Nusa Dua, Greenpress-Menyusul alotnya perdebatan antara Uni Eropa beserta Amerika Serikat (AS), Jepang dan Kanada di sisi lainnya, maka penutupan Konferensi Perubahan Iklim PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), Jumat (14/12) siang, jadi ikut molor.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer mengakui masih alotnya perdebatan. Akibatnya, Presiden COP 13 Rachmat Witoelar terpaksa memecah peserta menjadi dua kelompok panel.

Kelompok pertama berisi 20 negara bertugas untuk membahas soal mitigasi, adaptasi, teknologi dan pendanaan yang akan tertuang dalam naskah bersama Bali Roadmap. Kelompok ini dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup Argentina.

Sementara, kelompok kedua bertugas membahas materi pembukaan Roadmap Bali. “Salah satu hal penting dalam pembukaan pernyataan sikap bersama itu adalah menghubungkannya dengan rekomendasi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC),” kata Yvo siang tadi.

Kedua kelompok itu diharapkan dapat menyelesaikan pekerjaannya pada pukul 14.00 WIT. Dengan demi…