Langsung ke konten utama

Di PBB Indonesia Minta Dunia Bekerja Keras Atasi Perubahan Iklim


New York - Indonesia meminta seluruh negara di dunia bekerja lebih keras menjalankan Bali Action Plan, yaitu rencana global yang disepakati dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007 untuk mengatasi masalah perubahan iklim dunia.

Seperti yang disampaikan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di Markas Besar PBB, New York, Selasa, baik negara maju maupun negara berkembang harus benar-benar bertekad segara melaksanakan rencana aksi tersebut, mengingat waktu yang sudah mendesak.

"Harus diingat, kita hanya punya kesempatan yang singkat, yaitu hanya tahun 2008 dan tahun 2009 untuk membuat perincian empat tantangan, yaitu mitigasi, adaptasi, transfer teknologi dan pendanaan, termasuk dana untuk adaptasi dan masalah penebangan hutan," kata Rachmat ketika berbicara dalam sidang pleno Majelis Umum yang membahas masalah perubahan iklim.

Menurut Menteri LH itu, negara-negara maju harus memimpin pelaksanaan Rencana Aksi Bali, namun ia juga menekankan pelaksanaan itu hanya dapat berhasil jika semua pihak, termasuk negara berkembang, sektor swasta, dan masyarakat ikut berpartisipasi dengan aktif.

"Tindakan akan lebih banyak dilakukan negara berkembang sejalan dengan komitmen yang lebih ambisius dari negara-negara maju," ujarnya.

Indonesia sendiri, kata Rachmat, akan terus memainkan peranan guna memastikan semua pihak yang berkepentingan bekerja sama mewujudkan komitmen dimulainya perundingan tentang perubahan iklim pada tahun 2009.

Konferensi Bali pada Desember tahun lalu yang diikuti oleh ribuan peserta dari 190 negara berhasil meletakkan dasar untuk merumuskan kerangka kerja baru setelah Protokol Kyoto berakhir tahun 2012.

Peta Jalan Bali (Bali Road Map) yang juga disepakati pada konferensi tersebut memuat adanya pengakuan soal perlunya pengurangan gas buangan rumah kaca secara dramatis; protokol yang baru harus selesai pada tahun 2009 sehingga sudah dapat diterapkan mulai tahun 2012.

Peta tersebut juga mewajibkan negara maju untuk mengurangi emisi rumah kaca sementara negara berkembang diminta secara sukarela untuk melakukan hal yang sama; dan meminta ngera maju membagi teknologi ramah lingkungan kepada negara berkembang atau miskin untuk membantu mereka menghadapi dampak perubahan iklim

Dalam sidang Majelis Umum, Rachmat juga menyampaikan bahwa sebagai partisipasi pada tingkat nasional untuk menjalankan Rencana Aksi Bali, maka Indonesia telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk Perubahan Iklim.

RAN tersebut akan dijadikan sebagai panduan semua pihak di Indonesia dalam upaya menangani masalah perubahan iklim.

Indonesia juga saat ini membentuk Pusat Perubahan Iklim sebagai titik pangkal untuk melaksanakan rencana aksi nasional, memfasilitasi dan mengawasi bantuan teknis serta kerjasama dengan masyarakat internasional dalam mengatasi perubahan iklim.

"Kalau Center (Pusat Perubahan Iklim, red) ini sudah ada, tidak akan ada lagi keadaan yang tumpang tindih apalagi tarik menarik antara satu sektor dengan sektor yang lain," kata Rachmat kepada ANTARA di New York, usai memberikan pernyataan di sidang Majelis Umum.

"Ini adalah perwujudan konkret permintaan kita supaya ada kerja sama secara terintegrasi. Jadi kita tidak omong kosong. Kita minta seluruh dunia semuanya sama-sama terkoordinasikan , dan kita sendiri juga sudah melakukan itu," tambahnya.(Ant)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Negara Kepulauan Tuntut Amandemen Protokol Kyoto

Tuvalu, salah satu negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Foto : Google.

Kopenhagen, BL-Di tengah negosiasi yang alot COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Tuvalu dan sejumlah negara kepulauan menuntut Amandemen Protokol Kyoto dalam pertemuan Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP) di Bella Center kemarin.

Pertemuan itu membahas amandemen annex B, sebagai bagian dari periode kedua dari komitmen Protokol Kyoto. Tuvalu, salah satu negara kepulauan Pacific yang mendukung pelaksanaan mengusulkan amandemen target menjaga tingkat kenaikan suhu bumi di bawah atau tak lebih dari 1,5 derajat selsius dan konsentrasi gas rumah kaca tak lebih dari 350 ppm. Lebih tinggi dari kesepakatan sebelumnya, yang hanya 2 derajat celcius.

Hal tersebut dilaporkan Siti Maemunah dari Jatam yang juga turut hadir dalam COP 15 UNFCCC. Menurut Maemuna, Tuvalu adalah salah satu negara kepulauan di Asia pasifik yang harus lintang pukang bertahan hidup aki…