.

.
.

Lestarikan Daerah Aliran Sungai dengan Bercocok Tanam

Kendari, Greenpress-Kegiatan yang dilakukan sekitar 40 petani di Desa Lambakara, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan mungkin patut diapresiasi. Para petani menerapkan pola bercocok tanam dengan memanfaatkan sisa lahan di sepanjang pinggir Sungai Laeya.


Aktifitas petani memanfaatkan ereal kosong di sepanjang sungai menjadikan daerah aliran Sungai Laeya terawat baik. Warga menanam aenaka tanaman palawija jangka pendek dan jangka panjang.

“Tujuannya kami cuma dua. Ingin melesrarikan daerah aliran sungai dan meningkatkan ekonomi masyarakat local,”kata Ashar, ketua kelompok tani palawija Desa
Lambakara.

Sungai Laeya, satu dari enam sungai besar di Konawe Selatan bervolume air cukup besar. Sungai in mengairi 12 ribuhektar areal persawahan di tiga kecamatan di
Konawe Selatan.

Saat mengunjungi areal pertanian palawija masyarakat, nampak deretan aneka tanaman yang siap panen. Buah-buahan ranum seperti semangka, tomat, cabe merah
sebagaian telah dipetik dan siap jual. “Buah-buahan ini sudah diborong pembeli asal kendari. Mereka tinggal datang angkut,”demikian kata Ashar.

Kemadirian petani ini didasari keinginan melestarikan daerah aliran sungai dari degradasi akibat pengikisan air. Lagi pula, lahan dipinggir sungai sangat subur.
Humus tanah yang dibawa air sangat baik untuk tanaman jangka pendek. Tanaman menandapat cukup pasokan gizi humus tanah.

“Tak perlu pakai pupuk, sebab humus tanah sudah menjadi pupuk alami bagi tanaman,”kata Ashar.

Buah kerja keras petani melestarikan lahan daerah aliran sungai ini mampu meningkatkan ekonomi petani“Penghasilan petani ini buah manis dari kerja keras
petani,”kata Ashar, tersenyum.

Kegiatan petani lambakara saat ini menjadi perhatian aparat desa setempat. Kegiatan yang berpespektif lingkungan ini bukan saja bertujuan melestarikan
daerah aliran sungai, melainkan menjadi sumber ekonomi baru bagi desa.

“sebelum kegiatan bertani di daerah lairan sungai berlangsung, petani desa masih berpikir kerja serabutan. Dan lebih banyak berdiam di rumah dan
menunggu panen musiman jambu mete di kebun mereka. Namun kini pola hidup petani berubah semenjak mulai mengelola lahan di darerah aliran sungai,”kata Haris
Tamburaka, Kepala Desa Lambakara, Kacamatan Laeya,
Konawe Selatan.

Sebagai pemerintah, tentu Haris sangat mendukung kegitan warganya tersebut.
“Kegiatan petani telah sedikit mendongkart ekonomi desa. Seluruh kegiatan petani Lambakara dan Ambalodangge ini merupakan inisiatif sendiri,”tambah
Haris.

Ia berharap kegiatan petani mendapat perhatian dari pemerintah kecamatan dan kabupaten. “Kita tau petani ini masih mengandalkan pola kerja tradisional, kami
berharap pemerintah bisa memberi sentuhan pelatihan cara bercocok tanam yang baik,”kata Haris yang juga pendiri Koperasi Hutan Jaya Lestari, sebuah lembaga
koperasi yang bergerak bisnis kayu legal.

Hingga kini petani juga masih murni bertani dengan pola kemandirian. “ terus terang semua ini masih inisiatif masyarakat, pemerintah belum memberikan
sentuhan apa-apa pada petani,”kata Ashar.

Namun ia tidak menutup mata, jika mpetani sangat membutuhkan adanya sentuhan pemerintah, terutama bagaimana mensubsidi kegiatan mereka. (Yos Hasrul)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: