Langsung ke konten utama

Kronologis Insiden Penyerangan Aktivis di Kendari

Penyerangan terhadap peserta Deklarasi dan Konferensi Wilayah Ormas Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sulawesi Tenggara mulai terjadi pada hari Rabu (26/2/2008) dan hingga saat ini Kendari masih status mencekam. Berikut ini kronologis kejadian yang disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sultra, Arief Rahman dan Aktifis Fitra Sijar Taslim Suri di mailing list walhinews.

Hari I: (Rabu, 26/3/2008 Jam 09.00-09.45)
Sekitar 800 orang massa aksi peserta Deklarasi dan Konfrensi Wilayah I
Sarekat Hijau Indonesia (SHI) berkumpul di lapangan Eks MTQ Kendari di
Jalan Balaikota (depan kantor Walikota Kendari dan DPRD Propinsi Sultra).
Massa berasal dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, di
antaranya; Kota Kendari, Kab. Konawe, Kab. Konawe Selatan, Kab. Konawe
Utara, Kab. Muna, dan Kab. Bombana. Terdiri dari komunitas dan
serikat-serikat rakyat dari elemen gerakan perempuan, buruh, petani, kaum
miskin perkotaan, pedagang kaki lima (PKL), mahasiswa serta LSM. Selain
itu, undangan Deklarasi dari organisasi nasional seperti: WALHI, KPA dan
Pengurus Pusat SHI (PP SHI) hadir bergabung dengan massa aksi.

09.45 – 10.00
Panitia memandu jalannya acara Deklarasi dengan menjelaskan maksud dan
tujuan diadakannya kegiatan Deklarasi Ormas SHI Sultra.

10.00-12.00
Dipandu oleh MC, pimpinan-pimpinan organisasi nasional menyampaikan orasi
dan pesan solidaritas terkait dengan kegiatan Deklarasi. Orasi pertama
disampaikan oleh Usep Setiawan (Sekjend Konsorsium Pembaruan Agraria).
Orasi kedua oleh Charilsyah (Ketua Majelis Perwakilan SHI). Selanjutnya,
Andreas Iswinarto (Sekjend Pimpinan Pusat SHI). Dan yang terakhir orasi
politik oleh Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif Nasional WALHI).

12.00-12.05
Panitia menyampaikan kepada massa aksi bahwa kegiatan Deklarasi akan
diakhiri dengan reli menuju kantor Walikota Kendari. Tujuannya untuk
menyampaikan solidaritas kepada para PKL korban penggusuran oleh
Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Sebagai informasi, sudah sekitar 2
minggu sebelum acara Deklarasi, Komite Persiapan SHI (KP SHI) Sultra
secara rutin menggelar aksi-aksi massa bersama aliansi PKL dan gerakan
mahasiswa menentang penggusuran PKL di Kota Kendari. Aksi ditujukan di
kantor DPRD Kota Kendari maupun kantor Walikota. Jarak lokasi dengan
kantor Walikota sekitar 500 meter.

12.05-12.20
Massa bersiap-siap mengatur barisan aksi reli. Sementara mobil komando dan
sound system disiapkan.
12.20-12.25
Massa star dari lokasi Deklarasi menuju jalan raya Balai Kota.

12.25-12.40
Massa aksi tiba di depan pintu gerbang kantor Walikota. Terjadi aksi
dorong-dorongan dengan aparat pegawai Pemkot Kendari yang menghalangi
massa aksi masuk ke halaman kantor Walikota. Situasi sedikit memanas.
Korlap aksi menenangkan massa aksi. Terlihat sekitar 50-an orang kelompok
preman yang selama ini diidentifikasi menjadi massa bayaran oleh Walikota
Kendari untuk menghadapi aksi-aksi PKL bersama mahasiswa dan gerakan
sosial lainnya. Kelompok ini bergabung menghalang-halangi massa aksi masuk
dalam gedung. Setelah negosiasi, akhirnya massa aksi dipersilahkan masuk
ke halaman kantor Walikota Kendari.

12.40-12.50
Massa aksi tiba di depan pintu masuk utama kantor Walikota. Korlap dan
Wakorlap aksi menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan
kebijakan Pemkot menggusur PKL Kota Kendari (khususnya di wilayah Pasar
Andonohu, Pasar Baru Wua-Wua, Pasar Sentral Kota, Pasar Baruga, PKL Kadia,
serta PKL di emperan-emperan toko di sepanjang jalan utama kota)

12.50-13.00
Massa aksi meninggalkan halaman kantor Walikota. Korlap aksi menyampaikan
agar massa aksi tetap berbaris secara damai saat keluar dari halaman
kantor. Massa mengikuti dengan tertib dan damai sembari terus meneriakkan
yel-yel: Rakyat Bersatu Tolak Penggusuran; Bersama Bersatu Lawan
Penindasan; Tanah untuk Rakyat; Bersatu, Bersarikat, Berlawan Tolak
Kekerasan.

13.00-13.15
Massa aksi keluar meninggalkan kantor Walikota dikawal oleh sekitar 30-an
aparat polisi berpakaian dinas maupun anggota Intelkam Polresta Kendari.
Tiba-tiba salah satu peserta aksi yang berbaris dibagian belakang, Sdr.
Mastri Susilo Direktur Eksekutif LePMIL Sultra (33) dipukul dan dikeroyok
oleh sekitar 5 orang dari kelompok preman. Selain itu, mereka juga
mengeroyok Sdr. Andreas Iswinarto, Sekjend PP SHI (42) yang berada di
depan Sdr. Mastri Susilo. Andreas dipukul karena mencoba melerai dan
menolong Sdr. Mastri. Andreas dan Mastri mengalami luka-luka berupa memar
dan lebam dibagian wajah dan tubuh akibat ditendang dan dipukul. Korban
lainnya, Sari (13) masyarakat petani dari kawasan Taman Hutan Rakyat
(Tahura) Murhum Kota Kendari, luka dibagian kepala terkena lemparan batu.
Akibat lemparan kepala korban mengalami pendarahan.

13.15-13.35
Melihat Mastri dan Andreas dikeroyok, massa aksi spontan berbalik arah dan
membantu keduanya. Sementara, sekitar seratusan pegawai dan preman bayaran
berhamburan keluar kantor Walikota. Mereka membantu menyerang massa aksi
dengan melempar batu ke arah massa aksi. Batu ini diduga telah disiapkan
sebelumnya. Sebab, di lokasi tak ada batu seperti yang digunakan para
penyerang. Lalu para penyerang mengejar massa aksi dengan menghunus
senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau (badik). Ada sekitar 15
orang yang terlihat memegang senjata tajam. Karena dilempar batu dan
dikejar dengan menggunakan sajam, massa aksi berlarian menuju lapangan Eks
MTQ. Para penyerang terus mengejar massa aksi. Peserta aksi yang mayoritas
ibu-ibu dan mahasiswi banyak yang terjatuh dan terinjak-injak para
penyerang. Terdengar tembakan yang dikeluarkan oleh puluhan anggota polisi
di tengah penyerangan. Korban lainnya, Sdr. Alimuddin Direktur Eksekutif
SWAMI Muna (38) juga dikeroyok oleh sekitar 10 orang penyerang. 1 orang
yang teridentifikasi adalah Kepala Dinas Kebersihan Pemkot Kendari, Sdr.
Agus Salim. Alimuddin dianiaya hingga terjatuh di aspal. Penyerang terus
mengejar massa aksi hingga di lapangan Eks MTQ.

13.35-14.00
Massa aksi kembali merapikan barisan di lapangan Eks MTQ. Tim evakuasi
aksi membawa para korban yang dikeroyok maupun yang terinjak-injak ke
Rumah Sakit KOREM Wirabuana Kendari yang berjarak 500 meter dari lapangan
Eks MTQ.

14.00-14.20
Delegasi massa aksi terdiri dari wakil-wakil setiap organ peserta
Deklarasi yang berjumlah 10 orang kembali mendatangi kantor Walikota untuk
memprotes tindakan kekerasan, serta menanyakan kawan-kawan peserta aksi
yang masih terkurung dalam area kantor Walikota. Di belakang delegasi,
menyusul barisan massa mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Haluoleo
(Unhalu) Kendari. Jumlahnya sekitar 50-an orang. Massa mahasiswa dan
delegasi kembali bersitegang dengan aparat polisi, pegawai Pemkot, dan
petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Kendari yang menghadang massa
aksi di depan gerbang kantor Walikota. Terjadi aksi saling dorong antara
massa mahasiswa dan aparat polisi, pegawai Pemkot dan Pol PP. Mahasiswa
menyampaikan protes keras, sebab banyak kawan-kawan mahasiswa dan peserta
Deklarasi yang terkena lemparan batu dan pukulan hingga masuk Rumah Sakit.

14.20-14.40
Pimpinan-pimpinan massa aksi melakukan konfrensi pers bersama mengecam
keras atas tindakan penyerangan dan penyerbuan. Selain menyerukan agar
supaya massa tetap solid dan tidak terpengaruh dengan aksi penyerangan.

14.40-15.00
Massa aksi meninggalkan arena Deklarasi. Peserta dari luar Kota Kendari
kembali ke daerah masing-masing. Sementara sekitar 200 peserta Konfrensi
Wilayah I SHI Sultra menuju arena Konfrensi di Gedung LPMP Kota Kendari.

22.00-23.00
Hasil rapat bersama elemen-elemen gerakan mahasiswa Kendari bersepakat
untuk menggelar aksi damai pada hari Kamis (27/3) sebagai bentuk protes
atas tindakan penyerangan.

Hari II:
Kamis, 28/3/2008
09.00-09.30
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Haluoelo (Unhalu) berkumpul di
Kampus Lama Kemaraya Kendari. Jumlahnya sekitar 100 orang. Massa menuju
lapangan Eks MTQ Kendari.

09.30-10.00
Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai Fakultas di Unhalu berkumpul di
depan Gerbang Kampus Baru Unhalu di Jalan HEA. Mokodompit, Kambu Kota
Kendari. Mereka lalu longmarch menuju lapangan Eks MTQ di Jalan Balaikota.
Bergabung dengan massa mahasiswa Fakultas Teknik.

10.00-10.10
Mahasiwa melakukan diskusi singkat dan pengarahan terkait rencana strategi
aksi.

10.10-10.25
Massa mahasiswa melakukan longmarch menuju kantor Walikota. Jaraknya
sekitar 500 meter dari lapangan Eks MTQ Kendari.

10.25-10.35
Massa mahasiswa di depan pintu gerbang kantor Walikota saat hendak masuk.
Massa dihalangi oleh aparat polisi dari Polresta Kendari. Jumlah aparat
sekitar 30 orang. Terlihat sejumlah aparat polisi dari Intelkam Polresta
Kendari. Jumlahnya sekitar 15 orang berada di sekitar massa mahasiswa.

10.35-10.45
Di depan pintu gerbang terjadi negoisasi antara pimpinan-pimpinan
mahasiswa dengan Kasat Intelkam Polresta, AKP Bambang. Mahasiswa meminta
dipertemukan untuk dialog dengan Walikota Kendari. Kasat Intelkam setuju.
Massa mahasiswa mempersiapkan diri.

10.45-10.50
Saat massa mahasiswa hendak masuk ke dalam halaman kantor Waalikota untuk
dialog, tiba-tiba ada provokasi terhadap massa aksi berupa lemparan batu
oleh orang tak kenal kearah aparat polisi yang berjaga di depan pintu
gerbang. Provokasi ini menyebabkan aparat polisi mulai melakukan pemukulan
terhadap massa mahasiswa yang berada di baris terdepan. Massa mahasiswa
mundur dan bertahan dengan alat-alat perlengkapan aksi yang dibawa (tiang
bendera dan spanduk).

10.50-12.30
Aparat polisi mengejar massa mahasiswa dan terus memukul dengan
menggunakan tongkat. Mahasiswa berlarian mundur sembari tetap merapikan
barisan aksi di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sultra yang
berjarak sekitar 350 meter dari pintu gerbang kantor Walikota. Polisi
melepaskan gas air mata serta tembakan ke udara berkali-kali untuk
membubarkan massa mahasiswa. Polisi terus mengejar massa mahasiswa.
Mahasiswa mundur hingga ke belakang lapangan Eks MTQ. Beberapa mahasiswa
yang berlarian di sekitar kantor Walikota (terlepas dari massa aksi)
dipukuli oleh pegawai Pemkot Kendari. 7 orang mahasiswa ditangkap dalam
pengejaran ini lalu di tahan di Mapolsekta Mandonga. Beberapa saat
kemudian ketujuh mahasiswa di pindahkan di Mapolresta Kendari. Kedelapan
mahasiswa tersebut adalah:

1. Aswan (20) Fakultas Hukum angkatan 2007
2. Radjab (23) FISIPOL angkatan 2002
3. Oko (21) Fakultas Teknik angkatan 2007
4. Irwan (23) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2004
5. Larompo Awal (23) FISIPOL angkatan 2004
6. Lafirman (21) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2006
7. Al Abzhar (27) Fakultas Pertanian angkatan 1999
8. Kubais (24) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2001

Rata-rata kedelapan mahasiswa mengalami penganiayaan saat ditangkap. Pada
bagian wajah lebam dan berdarah. Sementara di bagian dada dan punggung
terdapat bekas-bekas pukulan dan tendangan. Khusus korban Al Abzhar,
mengalami bocor di bagian kepala dan memar di sekujur tubuh. Dia dirawat
di Poliklinik Polresta Kendari.

12.30-13.00
Massa mahasiswa yang kocar-kacir dikejar aparat polisi dan pegawai Pemkot
lalu naik menumpang truk dan angkutan umum yang lewat di belakang lapangan
Eks MTQ, Jalan Supu Yusuf. Di kampus mahasiswa melakukan konsolidasi
kembali.

13.00-14.00
Ratusan mahasiswa melakukan orasi-orasi dan penggalangan solidaritas atas
aksi represif aparat polisi dan pegawai Pemkot Kendari sebelumnya. Aksi
dipusatkan di depan gerbang I Kampus Baru Unhalu.

14.00-14.15
Sebagian massa mahasiswa masuk ke dalam kampus dan berkumpul di halaman
gedung Rektorat yang digunakan sebagai Posko informasi bersama.

14.15-14.30
Sekitar 20-an anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kendari masuk ke dalam
kampus dan langsung menyerang mahasiswa yang terkonsentrasi di gedung
Rektorat. Mereka membawa senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau
(badik); benda tumpul linggis dan balok kayu; serta membawa senjata api
(senpi) jenis pistol colt. Berkali-kali mereka menembak mahasiswa yang
membuat banyak mahasiswa kaget dan berhamburan menyelamatkan diri. Pasukan
BUSER menguasai gedung Rektorat. Saat kejadian Rektor Unhalu, Prof. Mahmud
Hamundu, MSc tidak berada ditempat.

14.30-16.15
Mahasiswa yang hendak menuju gedung Rektorat yang umumnya tidak terkait
dengan aksi di kantor Walikota, serta yang mau mengurus kebutuhan akademik
dikejar dan dipukuli oleh BUSER. Banyak yang luka-luka. Melihat kondisi
itu, puluhan mahasiswa berusaha mengambil alih kembali gedung Rektorat.
Terjadi aksi saling melempar antara BUSER dan mahasiswa. Terdengar
berkali-kali suara tembakan yang dilepaskan ke atas dan kearah kerumunan
mahasiswa. Satu orang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Unhalu (nama belum
diketahui) terkena tembakan peluru tajam pada bagian paha atas. Korban
dilarikan ke RSUD Propinsi Sultra oleh mahasiswa. Mengetahui ada mahasiswa
tertembak, BUSER meninggalkan gedung Rektorat menuju pintu I kampus.

16.15-16.45
Mahasiswa berhasil menguasai gedung Rektorat.

16.45-17.40
Datang aparat polisi gabungan dari Satuan Pengendali Massa (Dalmas);
BRIMOB dan BUSER serta Intelkam. Mereka menggunakan 3 unit truk Dalmas, 2
unit mobil patroli pickup; 2 unit mobil patroli jenis Kijang; 20 unit
motor patroli jenis trail; serta 1 unit mobil watercanon. Mereka langsung
masuk mengepung dan melakukan teror di dalam kampus. Di dalam kampus,
aparat gabungan ini melakukan tindakan kekerasan berupa:
1. Memukul siapa saja mahasiswa dan staf Rektorat yang ditemui berada di
sekitar gedung Rektorat.
2. Menghancurkan kaca-kaca di gedung Rektorat
3. Merusak kendaraan motor dan mobil mahasiswa maupun staf Rektorat yang
diparkir di halaman gedung Rektorat
4. Melepaskan tembakan berkali-kali

Tindakan di atas membuat mahasiswa yang berada di dalam kampus, khususnya
yang berada di gedung Rektorat menjadi panik dan berhamburan menyelamatkan
diri. Setidaknya 30-an mahasiswa mengalami luka serius (kepala bocor,
wajah bengkak dan lebam), serta luka ringan. Salah satu korban yang
mengalami luka serius, Zuhdi Mulkian Presiden Mahasiswa Unhalu.

Adapun nama-nama korban yang teridentifikasi hingga hari Jumat (28/3)
pukul 03.00 Wita yaitu:
1. Herman (26) Fakulltas Ekonomi angkatan 2000
2. Muhammad Fahri (22) Fakultas Teknik angkatan 2003
3. La Sara La Indi (23) Fakultas Teknik angkatan 2006
4. Wahid (26) Fakultas Ekonomi angkatan 2000
5. Hairil (19) AMIK Yapennas angkatan 2006
6. Ali (19) Fakultas Teknik angkatan 2007
7. M. As’ad (20) Fakultas Teknik angkatan 2007

Dan lain-lain yang masih tersebar di beberapa Rumah Sakit yang ada di Kota
Kendari di antaranya RSUD. Propinsi SULTRA, RS. Bhayangkara, RS. Korem,
dan RS. Prayoga.

17.40-18.00
Aparat gabungan bergerak meninggalkan kampus. Di depan kampus mereka
melakukan sweeping dan pemukulan pada siapa saja mahasiswa yang ditemui.

18.00-24.00
Suasana masih sangat mencekam. Aparat melakukan sweeping dan pencarian
terhadap beberapa pimpinan lembaga kemahasiswaan yang dianggap terlibat
aksi di depan Kantor Walikota pada siang hari tadi.

Adapun Lembaga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak Penggusuran Kendari:
WALHI Sultra, FITRA SIJAR Sultra, LEPMIL, HMI Perjuangan Cab.Kendari,
SULUH Indonesia, UPLINK, KPI, ALPEN, LMND, YPSHK, KBM-UNHALU, KOMDES,
SRMK, SHI SULTRA, JKPPR, FMPR, SUWAKA, Yasinta. (Marwan Azis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…