Pejabat PBB Sebut Bahan Bakar Nabati "Kejahatan Atas Kemanusiaan"

Berlin- Produksi besar-besaran bahan bakar nabati adalah "kejahatan terhadap kemanusiaan", karena berdampak pada persediaan makanan global, kata pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada radio Jerman, Senin, layaknya dikutip AFP.

"Pembuatan bahan bakar nabati saat ini adalah kejahatan atas kemanusiaan," kata pelapor khusus PBB untuk hak atas makanan, Jean Ziegler, kepada radio Bayerischer Runfunk.

Dengan mengalih-gunakan lahan, yang dapat ditanami untuk bahan makanan, menjadi lahan tanaman bahan bakar nabati, jumlah lahan untuk menanam bahan pangan akan berkurang, kata pengamat memperingatkan.

Ziegler menyeru Dana Moneter Internasional (IMF) mengubah kebijakannya dalam subsidi pertanian dan berhenti hanya mendukung program bertujuan mengurangi utang.

Pertanian juga harus disubsidi di wilayahnya memastikan kelangsungan hidup penduduk setempat, katanya.

Ziegler juga menuduh Uni Eropa (UE) melakukan "dumping" (menjual produknya di luar negeri lebih murah daripada di dalam negeri) atas hasil tani di Afrika.

"Uni Eropa mendanai ekspor hasil taninya, yang berlebih, ke Afrika, tempat mereka menawarkan harga setengah atau sepertiga dari harga produksi mereka," katanya.

"Hal itu sepenuhnya menghancurkan pertanian Afrika," katanya.

"Sebagai tambahan, spekulasi pasar internasional terhadap mata dagangan pangan harus dihentikan," kata Ziegler.

Dalam wawancara dengan harian tengah-kiri Prancis, "Liberation", dia memperingatkan bahwa dunia menuju "masa kerusuhan, yang sangat panjang", dan sejumlah sengketa lain, yang dipicu kekurangan bahan pangan dan kenaikan harga.

Dalam beberapa bulan terahir, kenaikan harga bahan pangan telah memicu unjukrasa diwarnai kekerasan di sejumlah negara, seperti, Kamerun, Mesir, Etiopia, Haiti, Indonesia, Pantai Gading, Madagaskar, Mauritania, dan Pilipina.

Di Pakistan dan Thailand, tentara ditempatkan untuk mencegah penjarahan makanan dari ladang dan gudang, ketika harga bahan pangan membubung tinggi memicu pemogokan di Burkina Faso. (AP/Antara)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: