Langsung ke konten utama

2008 Kebakaran Hutan di Sulsel Menurun



Makassar, Greenpress - Kendati seminar rancangan undang-undang (RUU) pengendalian kebakaran hutan di gelar di Sulawesi Selatan (Sulsel), namun tak berarti kebakaran hutan di daerah ini tinggi. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel, tahun 2007, luas kebakaran hutan dan lahan hanya 118 hektar.

Jumlah ini menurun dibanding tahun 2006, yang mencapai 1.556 hektar. "Kebakaran hutan umumnya terjadi di daerah tengah dan utara Sulsel," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel, Andi Idris Syukur dalam makalanya di ruang pola Kantor Gubernur Sulsel, Sabtu(28/6).

Katanya, berdasarkan penafsiran citra landsat (land satelit), 32,17 dari luas hutan Sulsel mengalami degradasi atau setara dengan 23.341-33.951 hektar per tahun. Akibatnya, 682.784,29 hektar menjadi lahan kritis.

Dengan rincian dalam kawasan hutan 369.956,54 hektar dan luar kawasan hutan 312.827,74 hektar. Dampak negatif yang terjadi antara lain banjir, di musim kemarau, kekeringan panjang di musim kemarau, menurunnya suplai energi PLTA, air baku PDAM, dan suplai air irigasi.

Secara umum, katanya, kebakaran hutan yang terjadi berulang-ulang setiap tahun di Sulsel adalah kebakaran bawah (lantai hutan), terjadi dalam kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi.

Kebijakan pengendalian kebakaran hutan, antara lain peringatan dini, kampanye, sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, pelaksanaan apel siaga, penyiagaan peralatan, penyampaian informasi hot spot ke kabupaten/kota, mobilisasi sumber daya manusia, mobilisasi peralatan, penyelidikan dan penyidikan, dan rehabilitasi.(Andi.A.Effendy)


Komentar

Pos populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Negara Kepulauan Tuntut Amandemen Protokol Kyoto

Tuvalu, salah satu negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Foto : Google.

Kopenhagen, BL-Di tengah negosiasi yang alot COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Tuvalu dan sejumlah negara kepulauan menuntut Amandemen Protokol Kyoto dalam pertemuan Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP) di Bella Center kemarin.

Pertemuan itu membahas amandemen annex B, sebagai bagian dari periode kedua dari komitmen Protokol Kyoto. Tuvalu, salah satu negara kepulauan Pacific yang mendukung pelaksanaan mengusulkan amandemen target menjaga tingkat kenaikan suhu bumi di bawah atau tak lebih dari 1,5 derajat selsius dan konsentrasi gas rumah kaca tak lebih dari 350 ppm. Lebih tinggi dari kesepakatan sebelumnya, yang hanya 2 derajat celcius.

Hal tersebut dilaporkan Siti Maemunah dari Jatam yang juga turut hadir dalam COP 15 UNFCCC. Menurut Maemuna, Tuvalu adalah salah satu negara kepulauan di Asia pasifik yang harus lintang pukang bertahan hidup aki…