Langsung ke konten utama

Konvensi Basel COP ke-9 Diharapkan Hasilkan Deklarasi Pengelolaan Limbah

Nusa Dua - Konferensi antar bangsa tentang pengelolaan limbah ke-9 (COP-9) Basel Convention diharapkan akan membentuk kesepakatan mengenai pengelolaan limbah, kata Menteri Lingkungan Hidup (LH), Rachmat Witoelar, saat membuka Konferensi COP-9 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali, Senin (23/6)kemarin.

"Perlu ada kesepakatan dalam bentuk deklarasi atau komitmen yang menggarisbawahi kekuatan organisasi Konvensi Basel," kata Rachmat Witoelar yang juga selaku Presiden COP ke-9 Konvensi Basel.

Menteri Witoelar, yang akan memimpin COP 9 Konvensi Basel, berharap Indonesia akan memiliki posisi yang kuat apabila menjadi negara korban sengketa pembuangan limbah berbahaya dan beracun.

Senada dengan Menteri Witoelar, Sekretaris Eksekutif Konvensi Basel, Katharina Kummer Peiry, juga mengharapkan konferensi ini dapat melahirkan sebuah deklarasi antar negara.

"Minimal hasil dari konferensi ini adalah adanya komitmen antar bangsa untuk lebih memperhatikan masalah pengelolaan limbah untuk kesehatan dan lingkungan," katanya.

Katharina Kummer Peiry mengatakan, pertemuan ini dapat menegaskan kembali keterkaitan antara pengelolaan limbah ramah lingkungan dengan pembangunan keberlanjutan.

Konvensi Basel akan membentuk sebuah badan arbitrase yang membantu penyelesaian konflik antara dua negara yang bersengketa akibat pelanggaran perpindahan limbah beracun dan berbahaya (B3).

Selain membahas mengenai pengelolaan limbah B3, konferensi juga akan membahas mengenai pengelolaan limbah produk elektronik seperti telepon selular dan komputer.

Konferensi diikuti lebih dari 1.000 peserta dari 170 negara dan berlangsung sejak 23 hingga 27 Juni 2008, dengan tema "Pengelolaan Limbah untuk Kesehatan Manusia dan Lingkungan Hidup".

Forum diskusi khusus tingkat tinggi akan diadakan pada 26 Juni, dengan diadakannya forum tingkat internasional yang membahas pengelolaan limbah.

Konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi Basel itu disepakati di Basel, Swiss, pada 22 Maret 1989 dan secara resmi berlaku mulai tahun 1992.

Konvensi ini mengatur pengawasan perpindahan limbah berbahaya dan pembuangannya. Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi Basel sejak tahun 1993 melalui penerbitan Keputusan Presiden No. 61 tahun 1993. (Ant)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Kenapa Masih Menjadi Aktivis dan Kenapa Masih Bekerja di NGO

Oleh : Jack Rimbawan

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk sukses dalam bekerja di mana kategori sukses menurut orangtua adalah menjadi PNS atau pegawai kantoran. Bahkan, yang bapaknya tentara pasti ingin putranya jadi penerus untuk jadi tentara. Namun pernahkah ada orangtua yang menyarankan anak atau menantunya untuk bekerja menjadi aktivis, atau menjadi sang demonstran?

Kata aktivis dalam penyerapan Bahasa Indonesia adalah seorang yang aktif dalam berkegiatan atau orang yang dalam kehidupannya total memperjuangkan tujuan atau cita-citanya.

Sejarah Pergerakan Bangsa dan Aktivitas

Bila kita masih dapat mengingat pelajaran sejarah dari zaman masih duduk di bangku sekolah sampai kuliah, maka kita tak bisa pungkiri bahwa kemerdekaan bangsa ini karena adanya aktivis-aktivis yang lahir dari para pemuda Bangsa Indoneisa. Di jaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya jaman era kebangkitan bangsa para pemuda di Indonesia menyatakan satu visi, satu ideologi dalam sebuah kesamaan, yaitu sam…