Langsung ke konten utama

Orangutan Pantas Menjadi Ikon Solusi Perubahan Iklim


DEPOK, JUMAT - Jika beruang kutub menjadi ikon kampanye perubahan iklim, orangutan seharusnya juga bisa. Keduanya sama-sama hewan yang terancam punah dan hanya hidup endemik di wilayah tertentu.


"Bahkan orangutan lebih menarik dijadikan ikon. Kalau polar bear (beruang kutub) merupakan ikon masalah, orangutan bisa menjadi ikon solusi," ujar Jamartin Sihite, Deputy Chief of Party Orangutan Conservation Services Program pada lokalatih jurnalistik lingkungan di Depok, Jumat (11/7).

Beruang kutub telah menarik simpati dunia karena sering digambarkan sebagai spesies yang merasakan dampak perubahan iklim. Dalam beberapa kesempatan diperlihatkan film yang menunjukkan nasib beruang kutub yang berjuang mati-matian karena lapisan es meleleh lebih cepat akibat pemanasan global.

Orangutan juga mengalami nasib yang sama, tapi bukan karena pemanasan global, melainkan perburuan ilegal dan kehilangan habitatnya akibat pembalakan liar. Kelangsungan hidup orangutan memang sangat tergantung pada kelestarian hutan.

Menurut Jito Sugardjito dari Flora Fauna International Indonesia Program, orangutan termasuk hewan yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Orangutan jenis pemangsa spesifik dan 60 persen makanannya buah-buahan. Daya jelajahnya sangat luas karena setiap ekor bisa mencapai 5 kilometer.

Konservasi orangutan otomatis sekaligus melestarikan hutan. Kita tahu bahwa hutan merupakan alat penyerap karbon dioksida, biang pemanasan global terbesar, yang menjadi harapan dunia untuk mengatasi perubahan iklim. "Karbon hanya dapat diserap pohon, dan hutan adalah yang paling banyak," ujar Martin. Jadi, menurutnya, pantaslah kalau upaya konservasi orangutan menjadi ikon solusi mengatasi perubahan iklim.(WAH/KOMPAS)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…