Langsung ke konten utama

Green Foundation : Ada Bukti PT. Inco Merusak Lingkungan

Asap hitam yang sangat tebal yang setiap saat dikeluarkan pada cerobong diarel pertambangan PT. Inco di Soroako ( foto: Green Foundation)

Makassar, Greenpress- Kunjungan Green Foundation ( Yayasan Hijau) Sulawesi selatan ke lokasi tambang PT. Inco yang ada di Malili Kabupaten Luwu Timur yang terdiri dari satu tim yang tujuannya melihat secara langsung kegiatan opersional perusahaan pertambangan nikel tersebut.

Direktur Green Foundation Sulsel, Husniaty AR (foto: Andi Ahmad)

Hasil investigasi yang didapatkan selama ada di wilayah pertambangan itu sangat jauh didapatkan hasilnya dengan fakta yang ada dilapangan, sejumlah area pemukiman dan lahan yang dekat dengan wilayah pertambangan sangat rusak, seperti rumput-rumput tidak didapatkan lagi berwarna hijau, apalagi bila melihat pemandangan kelangit sejumlah asap tebal menyelemuti areal tersebut akibat dari beberapa buah cerobong dari pertambangan yang setiap saat mengeluarkan asap tebal warna hitam, kata Direktur Green Foundation Sulsel, Husniaty AR di Makassar.

Menurut Husniaty, selama ini memang diakui royalti yang diberikan PT. Inco untuk kabupaten Luwu Timur dan Provinsi Sulsel cukup besar,tapi hal itu seimbang dengan kerusakan lingkungan yang dibuat oleh PT. Inco sendiri untuk wilayah Kabupaten Luwu Timur, sejumlah warga nantinya akan mendapatkan dampak dari apa yang diakibatkan oleh Inco dengan rusaknya lingkungan disekitarnya, jelasnya.

" Kedatangan Tim investigasi Green Foundation di Soroako tepat PT. Inco berkantor hanya diterima Superintendent Regional Media Relation ( Iskandar Siregar). dan dari Batara Manager Regional Comunication (Tri Rahman), namun mengecewakan karena kami hanya diberikan penjelasan profil dan misi dan visi PT. Inco saat ini, dan tidak mampu menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh PT. Inco saat sekarang," papar Husniaty yang didampingi beberapa orang Tim investigasi Green Foundation.

PT. Inco Anggap Biaya Rehabilitasi Lahan Kembali Sangat Mahal

Direktur Green Foundation dapat mencermati niat akal-akalan PT. Inco selama ini yang dapat disimak dari penjelasan dari Superintendent Regional Media Relation yang menjelaskan bahwa ingin membuat hutan produksi di daerah Kanreapia yang berada dalam wilayah Malili tapi menurutnya belum mendapat izin dari Departemen Kehutanan RI, dan lain pula halnya bila menganggap bahwa betapa mahalnya biaya rehabilitasi lahan kembali yang bisa menghabiskan dana sebesar Rp.105 juta perhektar, kata Iskandar Siregar, yang ditiru Husniaty kepada Green Press, Rabu (28/8) di Warkop Rally Makassar.

"Penjelasan yang diberikan kepada Green Foundation bahwa PT. Inco saat ini memberikan royalti kepada negara Indonesia ini sebesar 32 persen, yang sisanya dibagikan kepada Pemprov Sulsel dan kabupaten produsen juga kabupaten di sekitarnya, adapun pajak yang disetor kepada negara sampai Rp. 5,5 Trliun, bahkan juga mempekerjakan sekitar hampir 7000 orang masyarakat Malili, dan kenapa sampai Pemkab Luwu Timur hanya tinggal diam dari akibat kerusakan lingkungan yang diakibatkan PT.Inco saat ini?"kata Husniaty dengan nada tanya. (Andi Ahmad)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut

Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang TelukKendari perlahan mulai redup, seiring maraknya pembangunan pemukiman di sekitarnya.