Kenapa Masih Menjadi Aktivis dan Kenapa Masih Bekerja di NGO


Oleh : Jack Rimbawan

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk sukses dalam bekerja di mana kategori sukses menurut orangtua adalah menjadi PNS atau pegawai kantoran. Bahkan, yang bapaknya tentara pasti ingin putranya jadi penerus untuk jadi tentara. Namun pernahkah ada orangtua yang menyarankan anak atau menantunya untuk bekerja menjadi aktivis, atau menjadi sang demonstran?

Kata aktivis dalam penyerapan Bahasa Indonesia adalah seorang yang aktif dalam berkegiatan atau orang yang dalam kehidupannya total memperjuangkan tujuan atau cita-citanya.

Sejarah Pergerakan Bangsa dan Aktivitas

Bila kita masih dapat mengingat pelajaran sejarah dari zaman masih duduk di bangku sekolah sampai kuliah, maka kita tak bisa pungkiri bahwa kemerdekaan bangsa ini karena adanya aktivis-aktivis yang lahir dari para pemuda Bangsa Indoneisa. Di jaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya jaman era kebangkitan bangsa para pemuda di Indonesia menyatakan satu visi, satu ideologi dalam sebuah kesamaan, yaitu sama dalam berbahasa, dan sama dalam berkebangsaan, hingga lahirlah Sumpah Pemuda, yang diprakasai oleh para pemuda dari berbagai pelosok negeri ini. Mereka total berjuang, total berpikir, total dalam kehidupannnya memperjuangkan nasip bangsanya. Mereka semua adalah para aktivis sejati, aktivis kepemudaan bangsaan Indonesia di zamannya.

Aktivis-aktivis pemuda tersebut datang dari berbagai pelosok belahan bumi Nusantara, dengan berbekal semangat dan pemikiran dari hati, berjuang tanpa dibayar, tanpa mengharap pujian tanpa ada embel-embel pamrih, mereka hanya karena bekerja dengan hati.

Di era 60-an, lahir juga aktivis-aktivis dari dunia kemahasiswaan yang bicara dari hati. Mereka bicara tanpa ada rasa pamrih untuk sebuah perubahaan negara, yang pada saat itu banyak ketimpangan di negeri Indonesia. Walaupun pada akhirnya para aktivis tersebut dapat diketahui motif dalam perjuangannya, di mana terlihat siapa yang benar-benar sang demonstran yang benar-benar memperjuangkan nasib Negara tanpa mengharap balas jasa dan imbalan dari Negara ini, dan siapa yang menjadi penjilat.

Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh para penerusnya yang masih memiliki idealisme pada era tahun 70an. Para pemuda, mahasiswa mulai gerah melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin di jaman Orde Baru. Aktivis-aktivis baru lahir dari dari kampus dan juga organisasi kepemudaan di Indonesia. Mereka membentuk kelompok diskusi, membuat kegiatan, membangun perkumpulan-perkumpulan. Hingga akhirnya bak jamur di musim hujan dengan gerakan baru yang mulai merumuskan apa yang ada dalam pikiran dan perdebatan mereka menjadi suatu konsep tanding dalam pembangunan versi pemerintah Orde Baru.

Gerakan para aktivis tersebut di bangun untuk sebuah perubahan masyarakat baik dalam berpikir, berpolitik, maupun perubahan dalam proses pembangunan yang dapat melibatkan masyarakat. Para aktivis, pemuda, mahasiswa ini merupakan cikal bakal sebuah Organisasi Non Government (Baca: LSM/NGO) atau ornop yang saat sangat berkembang pesat di Indonesia. Lahirnya organisasi-organisasi tersebut baik kepemudaan, senat mahasiswa atau para pecinta alam menambah dinamika pergerakan perubahan negara. Namun kearoganan penguasa yang saat itu diktaktor, membuat banyak aktivis-aktivis tersebut harus menjadi korban baik penculikan, masuk penjara, bahkan hilang tanpa kabar berita hingga saat ini.

Di tahun 1998 genderang reformasi ditabuh dan mulailah bak jamur di musim hujan di mana tumbuh berbagai macam yayasan, LSM yang memiliki fokus dan kegiatannya beragam, visi, misi, pendekatan, dan isu yang dikembangkannya terbilang sangat luas dan banyak. Saat ini kita dapat melihat aktivis dari fokus kegiatan yang dilakukan, dan muncullah sederet sebutan bagi aktivis, seperti aktivis perempuan, aktivis HAM, aktivis hukum, aktivis lingkungan, bahkan aktivis satwa yang memperjuangkan nasib satwa dari eksploitasi manusia.

Gaya Hidup Aktivis

Tak dipungkiri saat ini, bekerja menjadi aktivis atau bekerja di sebuah NGO menjadi sebuah pilihan hidup selain menjadi PNS, bahkan menjadi trend mode para pejabat, artis atau pengusaha. Di satu sisi ada nilai positif yang dapat kita ambil, yakni apa yang kita perjuangkan ternyata telah membumi dan masyarakatpun memahami gerakan dan perjuangan yang dibangun oleh lembaga atau NGO tersebut.

Di sisi lain, ada banyak para pejabat, artis, pengusaha yang ikut andil bahkan berjuang demi perubahan dengan sebuah gerakan dari visi organisasi atau perkumpulan tersebut. Walaupun ada sebagian dari mereka yang mau bekerja menjadi ikon sebuah gerakan dari sebuah organisasi. Keuntungannya, selain bayarannya besar, juga bisa menambah popularitas. Namun ada juga segelintir artis atau pejabat yang memang tulus dan dari hati, menolak untuk dibayar. Mereka bekerja membantu sebuah NGO atau sebuah perjuangan dari hati yang tulus tanpa dibayar, tanpa imbalan. Bahkan justru mereka dengan tulus mengerahkan segenap pemikiran fisik dan harta untuk sebuah perjuangan.

Dengan menjadi tren hidup seperti itu kadang kita sulit mengetahui yang mana aktivis sejati, yang mana benar-benar bekerja dari hati, fokus dan total dalam hidupnya untuk sebuah perubahan dari apa yang diperjuangkannya. Seorang aktivis sejati maka dalam kepribadiannya hidup sehari-hari akan diwujudkan, misalnya serorang aktivis perlindungan satwa liar, dia tidak akan memlihara satwa liar, dia tidak menggunakan bahan-bahan asesoris pakaian ataupun merchandise yang menggunakan bahan dari satwa liar, dia tidak pernah menyakiti satwa dan memahami kebebasan satwa liar, begitupun aktivis lingkungan dia akan selalu menggunakan bahan yang dapat di daur ulang, tidak boros dalam penggunaan bahan-bahan yang berasal dari sumberdaya alam, menjaga lingkungan dan kesehatan di sekitarnya, dll. Pada intinya kepribadiannya akan terihat dari apa yang diperjuangkanya.

Nah kalau aktivis yang ikut-ikutan atau korban tren mode bagaimana? Ya, ini sangat kelihatan, ada artis ikut-ikutan menjadi aktivis perlindungan satwa karena biar tambah tenar, tambah populer, eh pas buat film, ataupun video-clip malah menggunakan satwa sebagai objeknya. Selain itu ada juga seorang artis dan pejabat di mana dia melakukan kampanye perlindungan satwa liar di TV-TV, di koran, menggalang donasi dengan pameran-pameran dan lain-lainnya, eh gak taunya dia malah tukang koleksi satwa liar. Ada juga artis yang berkampanye tentang bahaya narkoba, pokoknya dia aktivis banget dari cara bicaranya yang berapi-api di mana terlihat bahwa dia memahami bahaya dunia narkoba, eh ujungnya ternyata terungkap kalau dia bandar narkoba.

Di dunia pecinta alam juga terjadi, terkadang temen-temen yang gaya pakaiannya, seperti dandanan pecinta alam namun ternyata saat naik gunung buang sampah sembarangan. Ada juga yang memang anggota pecinta alam, dari cara bicara, pemikiran gaya hidup bener pecinta alam, eh nggak taunya ternyata cuma stylel gaya hidup doang. Saat diajak aksi dalam memperjuangkan lingkungan yang caranya agak sedikit kontroversial malah mikir-mikir. Malahan, menghilang duluan dengan berbagai macam alasan.

Aktivis dan Gerakan NGO

Zaman demokrasi pasca reformasi ternyata membawa iklim baik bagi pergerakan aktivis di Indonesia. Saat ini para aktivis bekerja dengan dinaungi oleh sebuah lembaga yang mempunyai payung hukum, ada yang berbentuk yayasan, perkumpulan, dan lainnya. Begitu pula soal gerak tujuannya. Namun sayangnya, tak jarang pergerakan tersebut lari dari sebuah rel yang seharusnya diemban NGO. Tak heran ketika menjadi mitra pemerintah dan pengontrol pemerintah, seringkali sejumlah NGO melakukan protes dan memberikan berbagi macam solusi untuk pemerintah. NGO sudah bekerja sebagaimana mestinya dan ada kelegowoan dari pemerintah yang mau menerima kritik, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang dewasa yang pada akhirnya menjadi basang yang berkarakter, maju di segala bidang.

Tapi, sayangnya pemerintah kadang ngeyel atau mencari celah dengan pembenaran-pembenaran atau tidak mau menerima kritik sehingga terbentuklah sebuah lembaga (NGO) yang dibuat untuk memuluskan atau mendukung pemerintah yang salah sehingga tak asing lagi bila kita melihat adanya perbedaan yang kental dari sebuah NGO. Beberapa teman sering menyebut ada NGO plat hitam, NGO plat kuning, dan NGO plat merah. Seperti nomor polisi pada kendaraan bermotor. Kalau hitam artinya NGO itu dikuasai perorangan visi-misinya untuk kepentingan perorangan. Biasanya NGO seperti ini didirikan untuk kepentingan seseorang yang arah tujuannya bukan untuk masyarakat, namun untuk kepentingan pribadi. Bahkan, NGO plat hitam ini sekedar berdiri dan punya nama saja, program tergantung funding. Kalau ada funding tentang hutan maka membuat program tentang hutan, kalau ada funding tentang pemberdayaan masyarakat maka program pemberdayaan dibuat. Kalau ada funding ngurusin gender maka kegiatannya pun bicara gender. Kalau ada bencana maka ngurusin bencana, dari evakuasi sampai menyalurkan bantuan, yah tergantung duit. Bila dilihat NGO seperti ini bekerja hanya berdasarkan kepentingan, baik kepentingan pribadi, pesanan seseorang, pesanan funding. Hebatnya, NGO seperti ini serba bisa di segala bidang pokoknya, tapi NGO Plat hitam ini tidak pernah fokus dalam bergerak.

Kalau plat merah? Yah, namanya plat merah berati punya pemerintah, artinya NGO ini dibuat berdasakan pesanan pemerintah, biasanya NGO ini kaya, karena punya kucuran dana yang segar, baik dari APBN atau APBD, seharusnya kalau punya pemerintah ya memperjuangkan kepentingan rakyat, namun tak jarang malah diselewengkan untuk memperjuangkan kepentingan pemimpin, atau pesanan pejabat.

Sedangkan plat kuning? Namanya aja plat kuning, berarti punya rakyat, lahir dari penderitaan untuk kepentingan rakyat. Walaupun didirikan oleh segelintir orang atau kelompok, namun NGO plat kuning ini fokus dalam bekerja. Mereka sudah memilih jalan gerakannya ada duit gak ada duit mereka tetap bekerja di relnya. Misanya, dapat funding gak dapet funding tetap bekerja ngurusin hutan. Terserah isu yang berkembang yang lagi ngetrend di bidang lain mereka tetap ngurusin hutan walaupun gak ada funding yang mau membiayai. NGO plat kuning ini telah fokus dalam memperjuangkan visi dan misinya. Biasanya lahir dari rasa ketidak puasan terhadap kinerja pemerintah, mereka bekerja dari hati untuk sebuah perubahan, namanya kerja dari hati kenikmatan yang dicari adalah kepuasan batin, bila tujuannya telah dicapai.

Saat ini rakyat Indonesia sudah cerdas dalam menilai sebuah gerakan massa, apakah gerakan itu ditunggani ada unsur politik praktis, atau murni, namun inilah sebuah kesalahan NGO di indonesia, sehingga terkadang muncul sebuah image buruk. Contohnya, Anda kerja di LSM dengan gaji yang gede karena mendapat dana dari luar negeri, biasanya uangnya tidak pernah kena audit. Lain kalau pemerintah, ada BPK. Mau korupsi paling gampang kok kerja di NGO, wah mumpung dapet funding yah bisalah di kutit dikit uang rakyat ini. Inilah yang membuat image buruk pergerakan NGO di Indonesia, karena gerakannya tidak murni, bahkan di beberapa daerah sebuah NGO di tolak masuk, karena tidak disukai cara gerakan atau programmnya tidak menyentuh masyarakat, bahkan ada juga sebuah NGO ditolak masuk ke daerah dengan NGO lokal, karena programnya bagi-bagi uang yang tidak mencerdaskan rakyat, bahkan ada sebuah NGO yang menjual hasil karya NGO lain untuk sebuah funding wah pokoknya banyak deh.

Saya Bangga Menjadi Aktivis Satwa Liar

Lahirnya gerakan lingungan di Indonesia banyak disebabkan karena ketidakpuasan atas kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunan yang lebih memihak pada kepentingan bisnis dibanding kepentingan ekologis. Selain itu juga banyak yang dipengaruhi karena ketidakpuasan terhadap produk hukum yang dikeluarkan oleh Negara yang berujung pada ketidakseriusan dalam menindak kejahatan di bidang lingkungan. Tak ayal akhirnya para pelaku gerakan lingkungan ini lebih banyak mengeluarkan konsep-konsep tandingan untuk pemerintah yang lebih banyaknya tidak seriusnya dalam bekerja menangani kejahatan di bidang lingkungan. Satu contoh adalah kinerja pemerintah dalam menangani illegal logging, yang mana sampai saat ini pemerintah masih mandul dalam upaya penegakan hukum, dan berunjung dengan kerja para aktivis yang melakukan yang seharusnya dilakukan pemerintah dan kepolisian, seperti melakukan intelegen dengan maksud membongkar jaringan illegal logging, yang nyatanya para pelaku tersbut malah lebih banyak para cukong yang juga melibatkan para petinggi negara seperti, anggota DPR, dan juga petinggi di kepolisian baik tingkat daerah ataupun di markas besarnya.

Tidak saja kasus illegal logging, kasus perdagaangan satwa juga pernah terkuat oleh para aktivis satwa, yang ternyata perdagangan satwa dilindungi justru didalangi para pejabat di Dephut. Salah satu kasusnya adalah laporan intelijen tentang saudagar dari Salemba, yang mana hasil intelegen para aktivis satwa tersebut direkam menjadi sebuah dokumen pembuktian, keterlibatan para pejabat di Balai KSDA DKI Jakarta, tak hanya satu kali departemen yang memiliki tupoksi dalam menjaga fungsi ekologis dan keanekaragaman hayati Indonesia terlibat dalam urusan bisnis satwa yang menggiurkan.

Salah seorang temen yang bekerja sebagai aktivis di NGO Satwa liar mengatakan, ”Bapak saya selama 30 tahun jadi PNS mengabdi untuk negara tak pernah terbersit untuk melakukan tindak korupsi dan penyelewengan wewenang. Ini baru jadi PNS berapa tahun aja, udah bertikah, sudah buat surat aspal, untuk menyelundupakan satwa, Apa kata dunia? Karena itulah saya masih bekerja dengan hati untuk menjadi aktivis satwa”.(habitat)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: