Langsung ke konten utama

Kinerja 62 Persen Pemegang HPH Dinilai Buruk

Jakarta- LSM lingkungan hidup Greenomics Indonesia menyatakan 61,54 persen perusahaan pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang beroperasi di Kalimantan masuk dalam kategori berkinerja buruk dan sangat buruk dalam hal pemanfaatan kayu secara lestari.

Seperti dikutip dari keterangan tertulis Greenomics yang dilansir ANTARA, di Jakarta, Senin, kondisi tersebut tidak terlalu mengejutkan karena lebih dari setengah jumlah pemegang HPH di Kalimantan (51,28 persen) memiliki kinerja buruk dalam melakukan investasi dan re-investasi terhadap pengelolaan hutan lestari.

"Temuan ini merupakan hasil evaluasi terhadap 40 perusahaan HPH di Kalimantan yang mengelola areal konsesi total seluas 3,48 juta hektar," kata Elfian Effendi, Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia menyampaikan hasil analisa Greenomics terhadap hasil penilaian kinerja Lembaga Penilai Independen (LPI) Departemen Kehutanan selama periode 2005-2007.

Sebaran HPH ini adalah 19 di Provinsi Kalimantan Timur, 16 di Kalimantan Tengah, 4 di Kalimantan Barat, dan 1 HPH di Kalimantan Selatan.

Elfian mengatakan, bahkan 48,72 persen HPH yang beroperasi di Kalimantan memiliki luas dan batas yang tidak jelas antara areal konsesi milik satu perusahaan dengan kawasan masyarakat hukum adat atau masyarakat setempat.

"Hal ini mengakibatkan 37,5 persen areal konsesi HPH di Kalimantan tidak memiliki kepastian kawasan," ujarnya.

Sementara itu dalam konteks peningkatan peran serta masyarakat hukum adat dan masyarakat setempat yang aktivitas ekonominya berbasis hutan HPH, masih kata Elfian, sebesar 35,9 persen pemegang HPH di Kalimantan berkinerja buruk dan sangat buruk dalam merespon upaya tersebut.

"Hanya 12,82 persen yang berkinerja baik, sisanya berkinerja sedang, namun cenderung ke buruk," kata dia.

Greenomics juga menggarisbawahi tentang kinerja kesehatan finansial pemegang konsesi HPH, di mana 56,41 persen pemegang HPH di Kalimantan masuk dalam kategori berkinerja buruk dan sangat buruk.

"Artinya, dari setiap 10 HPH yang ada di Kalimantan, 6 di antaranya berkinerja finansial buruk dan sangat buruk. Pertanyaannya adalah bagaimana mengelola areal konsesi hingga jutaan hektar jika kinerja finansial yang buruk sangat dominan. Ini perlu menjadi perhatian khusus dari pihak Departemen Kehutanan sebagai pihak pemberi izin," katanya.

Selain itu Elfian juga menyebutkan dari hasil evaluasi kinerja 40 HPH tersebut, hanya 1,06 persen yang berkinerja sangat baik. Sedangkan yang berkinerja baik sebesar 16,53 persen.

"Dari data ini, dengan kata lain, setiap 10 perusahaan HPH di Kalimantan, dapat dikatakan hanya 2 perusahaan yang masuk kategori HPH berkinerja lestari," demikian Elfian.(Ant)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Kenapa Masih Menjadi Aktivis dan Kenapa Masih Bekerja di NGO

Oleh : Jack Rimbawan

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk sukses dalam bekerja di mana kategori sukses menurut orangtua adalah menjadi PNS atau pegawai kantoran. Bahkan, yang bapaknya tentara pasti ingin putranya jadi penerus untuk jadi tentara. Namun pernahkah ada orangtua yang menyarankan anak atau menantunya untuk bekerja menjadi aktivis, atau menjadi sang demonstran?

Kata aktivis dalam penyerapan Bahasa Indonesia adalah seorang yang aktif dalam berkegiatan atau orang yang dalam kehidupannya total memperjuangkan tujuan atau cita-citanya.

Sejarah Pergerakan Bangsa dan Aktivitas

Bila kita masih dapat mengingat pelajaran sejarah dari zaman masih duduk di bangku sekolah sampai kuliah, maka kita tak bisa pungkiri bahwa kemerdekaan bangsa ini karena adanya aktivis-aktivis yang lahir dari para pemuda Bangsa Indoneisa. Di jaman sebelum kemerdekaan atau tepatnya jaman era kebangkitan bangsa para pemuda di Indonesia menyatakan satu visi, satu ideologi dalam sebuah kesamaan, yaitu sam…