Langsung ke konten utama

Film Dokumenter "Tanah Terakhir"Ditayangkan

KETAPANG--Film dokumenter ”Tanah Terakhir” yang dibuat oleh Rachmawati, dinilai Sekda Ketapang, Drs H Bachtiar merupakan salah satu pelajaran bagi pengelolaan lingkungan. Pesan yang disampaikan bagi kelestarian lingkungan perlu disebarluasakan.
”Peran serta pemuda untuk memikirkan kelestarian ini patut kita tiru, karena upaya penyelamatan lingkungan tak hanya urusan pemerintah, tetapi seluruh masyarakat,” kata Bachtiar saat menerima kunjungan Rachmawati, finalis Eagle Award yang masuk lima besar dalam ajang kompetisi film dokumentar yang diselenggarakan Metro TV.

Bachtiar berharap banyak lagi masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Karena itulah, Bachtiar mengajak masyarakat untuk mendukung upaya putri Ketapang bersaing di kancah nasional. Pemkab Ketapang berharap Racmawati dapat meraih salah satu dari unggulan kompetisi di Jakarta tersebut.

Dalam audiensi ke Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang, Rachmawati didampingi Yudo Sudarto, Kepala Kantor Inpormasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ketapang. Rachmawati menuturkan rencana penganugerahan (Awarding Night) dilaksanakan 25 Oktober 2008 di Jakarta. Pada saat itu akan diumumkan tiga kategori, yakni film terbaik, film dengan rekomendasi juri, film pavorit (lewat dukungan sms).
Untuk menonton film ”Tanah Terakhir” bisa disaksikan di Metro TV pada jadwal Fresh Senin, 13 Oktober 2008 , 19.30 - 20.00 WIB. Tayangan ulang pertama pada Hari Selasa, 14 Oktober 2008, 16.05 - 16.30 WIB. Tayangan ulang kedua pada Senin 20 Oktober 2008, pukul 11.05- 11.30 WIB. ”Sekali lagi saya berharap warga Ketapang dan Kalbar umumnya dapat mendukung Film “Tanah Terakhir” menjadi Film Favorit Pemirsa. Kirim SMS ke 6876 dengan cara ketik EA (Spasi) Tanah. Poling sms akan dimulai 12 oktober sampai 25 oktober jam 17.00. Hanya berlaku untuk pelanggan XL, Indosat, Telkomsel,” jelas Yudo Sudarto seperti dikutip Pontianak Post.

Rachmawati menjelaskan sinopsis film tersebut berkisah tentang sebuah keluarga. Adalah Anjol (45 tahun) anak yang paling membangkang. Sang Ayah, Datuk Duli (95 tahun) adalah seorang Pemuka Adat Kampung Bahake yang masih menjunjung tinggi tradisi perladangan gilir-balik. Dari perladangan yang dilakoninya, Datuk Duli berhasil memiliki beberapa buah kebun.

Konflik diantara mereka muncul ketika Anjol menjual kebun milik Datuk Duli tanpa izin demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Selama tiga tahun, pohon di tiga sungai dan tiga bukit telah habis ditebang tanpa membuahkan hasil. Di sisi lain, masyarakat Kampung Bahake mengeluhkan pencemaran air sungai akibat pembukaan jalan perusahaan yang beroperasi sejak empat tahun terakhir.
Film yang bercerita mengenai pelestarian lingkungan ini memang layak ditonton. Finalis, Rahmawati adalah Perempuan kelahiran Sandai 6 Mei 1982. Alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Sejak duduk di bangku kuliah ia sudah tergabung dengan organisasi lingkungan. Dia menganggap bekerja dilembaga yang concern dengan kelestarian lingkungan bisa menyalurkan bakat jalan-jalannya. Saat ini dia mengabdi pada Lembaga Penelitian Fauna and Flora International (FFI).(ndi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat

Oleh : IGG Maha Adi
___________________________________________

Lingkungan hidup
• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)
• Memengaruhi  Berinteraksi

Jurnalistik Lingkungan
• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.

Berita Lingkungan
Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:
• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan
• berorientasi dampak lingkungan
• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer

Apa Itu Berita Lingkungan ?
• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks.
• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: int…

Gerakan Pro Lingkungan Kian Tumpul

Oleh : Yos Hasrul*

Saat perkebunan dan tambang menyerbu . Bentang hutan alam di negeri-negeri ini sebagian besar telah hilang. Coba lihat, gunung-gunung telah gundul. Pohon-pohon tercerabut dari tanah. Tanah desa berubah jadi kubangan raksasa. Jalan raya sebagian besar rusak parah. Kata kesejahteraan masih sangat jauh dari rakyat.

Nasib rakyat tetap sama, meski investor berlomba-lomba mengkavling tanah. Tak ada perubahan.

Dua hari lalu, saya sempat mampir di bumi konawe utara. Menjejal jalan-jalan di ujung desa. Melewati rumah-rumah yang berdebu dan jauh dari sebutan sejahtera. Sepanjang mata memandang hanya terlihat pohon sawit berjejal hingga ke puncak bukit. Seluruh hutan alam telah berganti pohon sawit. Di belakang desa, gunung-gunung mulai bolong-bolong.

Saya mampir di salah satu perkampungan eksodus ambon di Desa Tobi Meita. Nama desa Tobi Meita dalam bahasa setempat berarti gunung tinggi. Nama ini diambil karena di belakang desa gugus pengunung menjulang berderet de…