Langsung ke konten utama

Kapal Greenpeace Esperanza tiba di Jakarta


Jakarta,Greenpress- Kapal Greenpeace Esperanza pagi ini tiba di Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta untuk membantu kampanye penyalamatan hutan Indonesia guna perbaikan iklim global.


Aktivis Greenpeace ikut dalam pelayaran kapal Esperanza ke Papua juga membawa setumpuk dokumentasi bukti-bukti perusakan hutan di tanah Papua. Bukti-bukti itu akan diperlihatkan pada Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Papua dan masyarakat Indonesia.

Selain itu, mereka juga menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk mendukung upaya Gubernur Riau mengawali pencanangan moratorium. “Sebagai tanggapan atas mendesaknya masalah ini dan menunjukkan nilai hutan-hutan utuh bagi lingkungan dan masyarakat, Greenpeace dan Kementrian Negara Lingkungan Hidup akan menyelenggarakan seminar internasional bersamaan dengan kedatangan kapal Esperanza untuk memperkenalkan Hutan untuk Iklim atau Forests for Climate (FFC),”kata Arie Rostika Utami, New Media Campaigner Greenpeace Southeast Asia – Indonesia melalui release persnya.

Menurut Arie, sebuah proposal andalan bagi sebuah mekanisme pendanaan internasional untuk melindungi hutan tropis. Gubernur Riau, yang telah menyatakan kesediaannya untuk mencanangkan moratorium akan menjadi salah satu pembicara utama bersama-sama dengan Gubernur Papua, Gubernur Papua Barat dan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. “Setelah menyaksikan pengrusakan hutan terakhir di Papua dan Papua Barat selama tiga minggu terakhir ini, diperlukan langkah-langkah cepat untuk melindungi hutan dan hutan gambut di Indonesia,” kata Madeleine Habib, nakhoda kapal Esperanza. “Kami mengharapkan moratorium baru di Riau adalah langkah pertama untuk menghentikan deforestasi.” Kata Arie.

Rencananya setelah mengadakan seminar perubahan iklim, Kapal Esperanza akan kembali melakukan melanjutkan pelayarannya menuju Sumatra, dimana Greenpeace akan bekerja dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk mengadakan survey pemetaan semenanjung Kampar di Riau, sebagai langkah pertama dalam melindungi wilayah yang belum tersentuh konversi dan yang akan dikenakan moratorium.

Di Sumatra, jutaan hektar hutan gambut telah ditebangi atau dialokasikan untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada bulan Agustus, Gubernur Riau, telah mengakui akibat dari kerusakan terjadi akibat konversi hutan terhadap masyarakat dan lingkungannya dan kemudian telah mendeklarasikan moratorium. “Moratorium terhadap konversi hutan adalah awal yang baik dan kesempatan bagi pemerintah daerah, masyarakat adat dan stakeholder lain untuk memperbaiki tata pengelolaan hutan. Greenpeace menyambut baik langkah Gubernur Riau untuk melindungi hutan gambut Sumatra, intervensi penting yang dapat membantu pengurangan emisi gas rumah kaca,” kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Semenanjung Kampar selama berpuluh tahun mendapatkan tekanan dari konversi hutan dan gambut lahan yang pesat untuk perkebunan kelapa sawit dan insustri kertas. Seluas 700.000 hektar hutan utuh di Kampar telah dialokasikan untuk tiga HPH besar, 19 konsesi pulp dan kertas serta 12 konsesi perkebunan kelapa sawit.

Selain tekanan dari lepasnya emisi karbon dan hilangnya keanekaragaman hayati yang besar, kehidupan masyarakat adat setempatpun juga terancam. “Sungai dan lahan gambut di bagian hulu Semenanjung Kampar telah lama menjadi pusat kehidupan masyarakat Melayu Riau. Sekarang wilayah ini mengadapi ancaman serius akan pengeringan lahan-lahan gambutnya. Bila ini terjadi, masyarakat akan kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupannya,” kata Susanto Kurniawan, Koordinator Jikalahari.

Greenpeace menyerukan Pemerintah untuk secepatnya menerapkan moratorium bagi semua bentuk konversi hutan, termasuk pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, industri penebangan kayu dan pendorong deforestasi lainnya.
(Marwan Azis)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

ACARA GREEN FESTIVAL 2008

Jalan Masuk

Acara Green Festival 2008 sendiri akan mengambil tempat di Parkir Timur Senayan. Dari layout gambar yang dirilis panitia, pintu masuk Greenfest berada di sisi utara Parkir Timur Senayan, sedangkan panggung utama berada di ujung selatannya (membelakangi jalan raya Sudirman).


Untuk mempermudah akses masuk ke Green Festival, Anda disarankan masuk ke komplek Senayan melalui Century Atlit (Jl Pintu 1) atau TVRI (Jl Gerbang Pemuda) untuk selanjutnya langsung menuju Parkir Timur Senayan.

Pentas Musik
- T ai ko Jepang (alat tabuh): Jumat 16.10
- Choir Kid Purwacaraka: Jumat 16.25
- Capoeira: Jumat 19.05
- Nugie: Jumat 20.10
- Letto: Jumat 20.45
- SD Citra Indonesia : Sabtu 10.30
- Dwiki & The Next Gen: Sabtu 13.25
- SD & SMA Harapan Bangsa: Sabtu 14.25
- Nabila & Smart: Sabtu 15.45
- Ulli Sigar Rusady & Super Bintang: Sabtu 19.05
- Maliq & d'Essentials: Sabtu 19.25
- Marcell: Sabtu 20.15
- Ta ta loe: Minggu 10.30 & 17.00
- Bina Vokalia: Minggu 1…

Negara Kepulauan Tuntut Amandemen Protokol Kyoto

Tuvalu, salah satu negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Foto : Google.

Kopenhagen, BL-Di tengah negosiasi yang alot COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Tuvalu dan sejumlah negara kepulauan menuntut Amandemen Protokol Kyoto dalam pertemuan Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP) di Bella Center kemarin.

Pertemuan itu membahas amandemen annex B, sebagai bagian dari periode kedua dari komitmen Protokol Kyoto. Tuvalu, salah satu negara kepulauan Pacific yang mendukung pelaksanaan mengusulkan amandemen target menjaga tingkat kenaikan suhu bumi di bawah atau tak lebih dari 1,5 derajat selsius dan konsentrasi gas rumah kaca tak lebih dari 350 ppm. Lebih tinggi dari kesepakatan sebelumnya, yang hanya 2 derajat celcius.

Hal tersebut dilaporkan Siti Maemunah dari Jatam yang juga turut hadir dalam COP 15 UNFCCC. Menurut Maemuna, Tuvalu adalah salah satu negara kepulauan di Asia pasifik yang harus lintang pukang bertahan hidup aki…