Hutan Bantaeng Merana

. Tampak hutan di Bantaeng yang mengalami pengundulan akibat konversi areal hutan menjadi lahan budidaya. Foto : Marwan Azis.

Program perluasan areal pertanaman jagung di Sulawesi Selatan yang dicanangkan lewat program Gemapalagun beberapa tahun silam, kini menyisahkan berbagai persoalan lingkungan di Bumi Bantaeng.



Bantaeng, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berpenduduk kurang lebih dari 200 ribu jiwa dengan mata pencaharian warganya sebagian besar digantungkan pada sektor perikanan dan sektor pertanian, disamping sektor lainnya seperti kehutanan. Daerah ini bisa dicapai dari Kota Makassar dengan memakan waktu 2 jam perjalanan.

Kota yang bergelar ”Butta Toa”(kota tua) ini boleh dibilang berada di urutan paling belakang dalam segi alam hal pembangunan sektor kehutanan bahkan saat ini kondisi kerusakan kawasan hutan di Bantaeng berada pada titik terendah dalam sejarah Bantaeng berdiri.

Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Kehutanan Bantaeng, Drs Idrus, bahwa kerusakan kawasan hutan di daerahnya berada diambang kritis. Dari 800 ribu hektar luas kawasan hutan yang ada, kini hampir 40 persen sudah mengalami perubahan bentuk. Ini terjadi akibat perluasan areal pertanian khususnya pertananaman jagung oleh warga setempat yang membuka lahan hingga jauh ke kawasan hutan produksi. “Bahkan sebagian kawasan hutan lindung, juga mulai ikut dirambah,”kata Idrus.

Komentar miris Idrus cukup beralasan. Saat melakukan peliputan ke Bantaeng, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan lahan gundul yang telah dibuka masyarakat. Jangan harap bisa menyaksikan hutan tropis padat dengan berbagai vegetasi pohon-pohonan dengan aneka satwa di dalamnya.

Rerimbunan pohon telah berganti hamparan tanaman jangka pendek seperti jagung dan kentang. Masyarakat begitu bergantung pada dua komoditas ekonomi ini, sebab nilai jual cukup tinggi. Papan yang berisi imbauan tidak merusak hutan dipasang dibeberapa sudut jalan seakan tak mampu menekan laju perusakan hutan di Bantaeng.

Hampir satu dekade Jagung menjadi komoditi paling diminati masyarakat. Hampir diseluruh kawasan yang berada di dataran rendah tanaman ini tumbuh subur. Ini tentu bukan tanpa sengaja. Sejak tujuh tahun silam masyarakat telah diakrabkan dengan komoditas satu ini. Andil pemerintah daerah Sulawesi Selatan tentu sangat besar. Melalui program gemapalagung yang dicanangkan memicu masyarakat untuk terus melakukan perluasan areal penanaman jagung hingga ke pelosok di daerah. Pemerintah daerah seolah tak mau disalahkan dengan program ini. “Sebenarnya program gema palagung bukan semata-mata program pemerintah daerah. Tetapi juga telah menjadi program yang dicanangkan pemerintah pusat. Jadi sifatnya pemerintah di daerah hanya melanjutkan program nasional,”kata Idrus.

Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan, maka sebagian kawasan telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupuntanah longsor. Bencana banjir hampir tiap tahun melanda kota tertua di Sulawesi Selatan itu. Cuaca di Kota Bantaeng beberapa tahun belakangan ini makin panas.

Selain itu, Bantaeng juga telah kehilangan beragam hewan dan tumbuhan. Dengan hilangnya hutan di Indonesia, menyebabkan mereka kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Petani juga mengalami ketergantungan pada pupuk kimia dan pestida.

Pembangunan Hutan Terpadu

Salah seorang pemerhati lingkungan Kabupaten Bantaeng Ir H.Anwar Kamran MSi, mengatakan, dengan kondisi topografi Bantaeng datar, miring, hingga terjal dan outlet dari aliran sungai menuju ke satu titik yang pertemuanya berada di pusat kota Bantaeng sehingga berpotensi menyebabkan bencana banjir, kalau permukaannya tanpa vegetasi hutan.

Menurut Anwar, Bantaeng kedepan kalau ingin terhindar dari malapetaka banjir maka dari sekarang harus memulai membangun hutan yang berhasil hingga minimal 50 persen dari luas wilayah daratan tertutup dengan vegetasi hutan.

Anwar menawarkan konsep pembangunan hutan terpadu yang ia sudah galakkan 15 tahun lalu di tanah kelahirannya dengan luas kurang lebih 9 hektar.

Lebih lanjut dikatakan konsep ini lahir karena ia prihatin melihat kabupaten Bantaeng sudah gundul. Bandingkan saja saja tahun 1960-an luas hutan kurang lebih 18.000 hektar, sekarang menurut data terakhir Dinas Kehutanan sisa 6.222 Hektar. Itu berarti tiap tahun Bantaeng kehilangan areal hutan sekitar 300 hektar. Tak mengherankan kalau tiap tahun kota Butta Toa berlangganan banjir.

Konsep pembangunan terpadu yang ditawarkan merupakan perpaduan 4 komoditas yaitu komoditas kehutanan, perkebunan, peternakan, pangan dan holtikultura. Konsep ini dimaksudkan agar pengelolaan hutan mendapatkan nilai ekonomi sebelum dan sesudah hutan terbentuk, untuk dapat hidup sejahtera bersama keluarganya. ”Sehingga dengan demikian masyarakat pengelola hutan itu akan menjaga dan melestarikan hutannya sepanjang masa,”ujarnya.

Ketika ditanya teknis seperti apa? alumnus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin dan alumni S2 lingkungan hidup di almameter yang sama mengatakan, penanaman pohon berupa pohon albizia valketina dan tanaman rumput raja di tanam menurut garis kontur, jarak 25 cm dalam barisan untuk tanaman rumput dan 5 meter untuk tanaman albazia. Jarak antara kontur 10 meter ditanami tanaman perkebunan dan kehutanan.

Disela-sela tanaman perkebunan ditanami tanaman musiman sebelum ruang belum tertutupi.”Rumput raja ini memiliki potensi hijauwan segar diatas 1000 ton perhektar pertahun, sehingga perhektar bisa memenuhi pakan 40 ekor sapi, rumput raja juga berfungsi sebagai penyangga erosi atau aliran permukaan,”tandasnya.

Ia berharap agar pemda memberikan skala prioritas bagi rehabilitasi hutan di Bantaeng. ”Hutan ini merupakan komponen lingkungan yang sangat menentukan kesempurnaan kehidupan umat manusia dan hewan, karena hutan sebagai sumber oksigen, tata air dan penyebab hujan serta sumber keanekaragaman hayati sehingga hutan perlu tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya,”tandasnya. *** (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: