Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 11, 2008

Jejak Air Ditemukan di Bulan

JAKARTA, Bukti-bukti terbaru mengindikasikan kandungan air di Bulan. Para ilmuwan menemukan jejak air dari sampel tanah Bulan yang dibawa pulang misi Apollo empat dekade lalu.

Jejak air diketahui dari kandungan zat kimia yang mudah menguap di dalam butiran-butiran kaca berwarna-warni dari sampel tanah Bulan. Kerikil semacam ini biasanya terbentuk dari tetesan lava yang membeku saat menerobos ke permukaan.

Kerikil-kerikil kaca tersebut diperkirakan terbentuk dari percikan lava saat terjadi letusan vulkanik sekitar 3 miliar tahun lalu. Sekitar 95 persen kandungan air mungkin menguap ke ruang angkasa. Kadar air di dalam kerikil kaca tersebut hanya sekitar 46 ppm (bagian per mil) atau jauh lebih kecil daripada mineral serupa di Bumi.

"Saya pikir jika beruntung kita segera melihatnya. Tapi seperti kebanyakan orang, saya juga berpikir bahwa peluangnya kecil," ujar Alberto Saal, pakar geokimia dari Universitas Brown. Ia dan timnya melaporkan temuan tersebut dalam jurnal Nature terbar…

Catatan Kritis Bencana Banjir di Kota Padang

Oleh: Hendri Teja*

Sebenarnya kota Padang tidak layak dilanda banjir. Setidaknya ada tiga faktor yang melandasi pemikiran ini, 1) Kota Padang dikelilingi oleh hutan Bukit Barisan dan Tahura Bung Hatta yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan (catchmen area); 2) Kota Padang memiliki sungai-sungai besar sebagai drainase alami yang mengalirkan air hujan langsung ke laut; 3) Fenomena banjir telah bertahun-tahun terjadi sehingga Pemko mestinya telah dapat melakukan tindakan antisipasi.

Sayangnya, tiga faktor tadi belum cukup bagi Pemko Padang untuk melakukan tindakan preventif. Di bulan Desember ini, sudah dua kali kota Padang dilanda banjir. Korban pun berjatuhan. Ribuan warga mengungsi, ratusan rumah tenggelam, akses jalan terputus hingga puluhan hektar sawah rusak.

Musibah banjir yang melanda kota Padang jelas bukan kutukan apalagi kado akhir tahun dari Tuhan. Banjir adalah fenomena alami yang terjadi ketika kondisi alam terganggu dan keseimbangan baru tercipta. Selai…

Pecinta Alam Indonesia Bersatulah

Oleh : Hendri Teja

Amerika Serikat (AS) gagal. Tekanan konsensus politik dan ilmiah untuki bereaksi terhadap perubahan iklim akhirnya membuat AS dan negara pendukungnya, Kanada dan Jepang, terpaksa mensepakati target pengurangan emisi bagi negara-negara maju sebesar 25-40 persen pada tahun 2020 berdasarkan kuntitasnya di tahun 1990. Kendati begitu, hasil Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) yang dirangkum dalam peta jalan bali (Bali Roadmap) tidak serta merta memuaskan kalangan aktivis lingkungan. Pasalnya meski ’telentang’, AS masih sukses menjebolkan target spesifik penurunan emisi menjadi hanya sebatas catatan kaki pembukaan.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Nobua Tanaka sangat menyesalkan hal ini. Menurutnya tanpa kebijakan baru, emisi karbon terkait energi akan meningkat hampir 60 persen, mencapai 42 miliar ton (ekuivalen CO2) pada 2030. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi tahun lalu yang hanya sekitar 1,5 miliar karena jauh lebih besarnya pen…

Perkebunan Sawit Ancam Hutan Indonesia

Brisbane, - Perluasan perkebunan sawit di Indonesia telah memberikan berkah kepada sebagian pihak namun kehadirannya juga memberi dampak sosial-ekonomi dan lingkungan terhadap kelestarian hutan di negara itu, kata Peneliti senior Universitas Nasional Australia (ANU), Dr.John McCarthy.


Ia mengungkapkan pandangannya dalam penjelasan pers yang diterima ANTARA dari Staf Humas ANU, Martyn Pearce, di Brisbane, Kamis, sehubungan dengan proyek riset ANU dan Universitas Queensland tentang perkebunan sawit dan perubahan agraria di daerah-daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Proyek riset yang dipimpin McCarthy bertajuk "Oil palm and agrarian change on the Indonesian and Malaysia frontiers" ini didanai Dewan Riset Australia.

McCarthy mengatakan, jutaan hektar lahan hutan Indonesia telah dikonversi menjadi perkebunan sawit. Di sekitar wilayah-wilayah perkebunan itu, hidup puluhan juta orang.

Kehadiran perkebunan-perkebunan sawit ini bak "penggalian emas" massal di era modern y…