Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 13, 2008

Orangutan Pantas Menjadi Ikon Solusi Perubahan Iklim

DEPOK, JUMAT - Jika beruang kutub menjadi ikon kampanye perubahan iklim, orangutan seharusnya juga bisa. Keduanya sama-sama hewan yang terancam punah dan hanya hidup endemik di wilayah tertentu.


"Bahkan orangutan lebih menarik dijadikan ikon. Kalau polar bear (beruang kutub) merupakan ikon masalah, orangutan bisa menjadi ikon solusi," ujar Jamartin Sihite, Deputy Chief of Party Orangutan Conservation Services Program pada lokalatih jurnalistik lingkungan di Depok, Jumat (11/7).

Beruang kutub telah menarik simpati dunia karena sering digambarkan sebagai spesies yang merasakan dampak perubahan iklim. Dalam beberapa kesempatan diperlihatkan film yang menunjukkan nasib beruang kutub yang berjuang mati-matian karena lapisan es meleleh lebih cepat akibat pemanasan global.

Orangutan juga mengalami nasib yang sama, tapi bukan karena pemanasan global, melainkan perburuan ilegal dan kehilangan habitatnya akibat pembalakan liar. Kelangsungan hidup orangutan memang sangat tergantung pada…

Hidup Selaras Dengan Alam Kurangi Pemanasan Global

Padang,- Gaya hidup selaras dengan alam (living green) perlu mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah di dunia, sebagai upaya mengurangi pemanasan global yang menyebabkan terus meningkatnya temperatur di bumi.

Pemanasan global juga dampak dari kerusakan lingkungan di bumi, kata kata Pakar Lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta (UBH), Profesor Dr Ir H Nasfryzal Carlo M.Sc di Padang, Sabtu.

Hal tersebut disampaikannya saat dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu bidang ilmu rekayasa lingkungan dan pengolahan limbah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UBH.

Dalam pengukuhan yang dilakukan Rektor UBH, Prof Dr Yunazar Manjang itu, Profesor Nasfryzal Carlo menyampaikan pidato ilmiah berjudul "Pembangunan berkelanjutan dan etika lingkungan serta dampak pemanasan global".

Menurut Carlo, agar temperatur bumi tidak terus meningkat dan kerusakan lingkungan tidak semakin parah, maka pemanasan global harus dikurangi.

Ia mengatakan, meminimal…

90 Persen Bencana Terkait Perubahan Iklim

GENEVA,- Pada dekade terakhir ini, 90 persen bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia terkait dengan perubahan iklim. Peran media menjadi sangat penting dalam menunjang edukasi untuk membuat langkah adaptasi dan mitigasi mengurangi dampak perubahan iklim tersebut.

Demikian dikemukakan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Michel Jarraud dalam pembukaan lokakarya Media 21 Global Journalism Network dengan tema ”Perubahan Iklim III: Dampak Terhadap Kawasan Pantai dan Negara Kepulauan”.

Loka karya yang dimulai Senin lalu hingga Kamis (26/6) di Geneva, Swiss, ini akan dilanjutkan dengan tinjauan lapangan ke Benin, salah satu negara miskin di wilayah Afrika barat hingga Jumat (4/7).

”Bencana banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi dan menewaskan ribuan orang dari berbagai negara setiap tahun,” kata Jarraud.

Bencana banjir, lanjutnya, terjadi karena curah hujan ekstrem akibat gangguan cuaca, seperti siklon tropis. Perhatian WMO kini, selain pada persoalan iklim…