Langsung ke konten utama

Kerajinan Ramah Lingkungan Disukai Pasar Ekspor

Yogyakarta- Produk kerajinan yang berbahan baku ramah lingkungan masih tetap disukai oleh pasar ekspor, sehingga dapat menjadi peluang besar bagi para perajin Indonesia, kata Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (APIKRI), Amir Panzuri.

Di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan, produk kerajinan yang ramah lingkungan adalah yang bahan bakunya dari alami yang bisa dikembangkan dan selalu bisa terbarukan.

"Selain itu, bukan dari bahan baku dari bahan tambang yang untuk memperolehnya bisa merusak lingkungan. Juga bukan bahan baku dari barang yang langka dan tidak bisa terbarukan," katanya seperti dikutip Antara.

Ia mencontohkan, produk kerajinan ramah lingkungan yang memiliki prospek baik di pasar ekspor, diantaranya anyaman serat daun pandan, yang bahan bakunya bisa diperoleh dengan mudah dan diperbarui dengan penanaman kembali jenis tanaman pandan tersebut.

Selain itu, produk kerajinan dengan bahan baku dari kayu pohon cepat tumbuh dan tidak harus merusak lingkungan alam, misalnya bambu, sengon, mahoni dan sonokeling. bahan baku jenis itu mudah diperoleh dan bukan tanaman langka, kata Amir Panzuri.

Menyinggung mengenai produk kerajinan dari bahan serat pandan,ia mengatakan, memiliki prospek baik untuk ekspor ke bebagai negara, sedangkan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi besar tanaman pandan.

Oleh karena itu, ia mengemukakan, pihaknya bekerjasama dengan perajin serat di wilayah Kabupaten Kulonprogo, berupaya mengembangkan tanaman pandan di kawasan Pantai Congot kabupaten tersebut.

Upaya mengembangkan tanaman pandan di pantai itu dimulai ulan Mei 2008 dengan menanam bibit pandan sebanyak 5000 batang.

"Kami mengharapkan dalam waktu dua tahun mendatang, tanaman pandan sudah bisa dipanen dan dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan serat bagi bahan baku aneka kerajinan serat yang sampai kini banyak digeluti warga Kulonprogo,"katanya.

Ia mengatakan, pengembangan tanaman pandan di kawasan pantai Congot tersebut diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, sebab masyarakat setempat bisa memiliki usaha kerajinan dari bahan serat daun pandan.

Kawasan pantai di wilayah Kulonprogo memang potensi tanaman pandan,namun selama ini belum dibuddayakan dengan baik dan hanya dibiarkan tumbuh liar, padahal serat daun pandan maupun daun pandan dikeringakan bisa menmenjadi bahan baku kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi, katanya. (Ant)


Komentar

I'm Hernadi-Key mengatakan…
mas saya kukuh hernadi ,
bagaimana cara untuk bergabung dengan greenpress ?

oh iya, link greenpress sudah saya pasang di blog saya mas..
mohon diperiksa di hernadi-key.blogspot.com
saya ingin menambah kenalan-kenalan saya untuk mengkampanyekan STOP GLOBAL WARMING..



terima kasih

hernadi-key

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut

Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang TelukKendari perlahan mulai redup, seiring maraknya pembangunan pemukiman di sekitarnya.