Langsung ke konten utama

Air Jadi Barang Mahal

Bengkulu, Greenpress-Air menjadi barang mahal dan semakin susah diakses oleh masyarakat, bahkan terbitnya UU no. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sangat kental dengan nuansa privatisasi air, kata pemerhati lingkungan Bengkulu, Ali Akbar terkait peringatan Hari Air Sedunia, Minggu.


Menurut dia pemerintah harus membatalkan UU tersebut karena jelas membatasi akses masyarakat terhadap sumber daya yang menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia itu.

"UU ini juga bertentangan dengan UUD yang menyebutkan bahwa bumi, air dan segala isinya dikuasai oleh negara untuk kesejahteraan rakyat, sehingga kebijakan yang membatasi rakyat terhadap air bertentangan dengan UUD," katanya seperti dilansir Antara.

Mantan Direktur Walhi Bengkulu ini mengatakan seharusnya pemerintah bertanggungjawab melindungi dan melestarikan sumber daya air untuk rakyat, bukannya melegalkan kelompok tertentu untuk menguasai sumber air dan menjadi barang dagangan.

Secara keseluruhan kata dia, perlindungan air sebagai barang publik masih rendah bahkan pemerintah membiarkan sumberdaya air mengalami degradasi seperti pencemaran limbah industri yang dibuang ke sungai yang merupakan sumber air bersih bagi rakyat.

"Dan bagaimana pemerintah mengabaikan perubahan fungsi hulu dan sempadan sungai untuk perkebunan sawit khususnya di Bengkulu," katanya.

Sementara itu Direktur Yayasan Ulayat, Trioka mengatakan belum ada peningkatan pengelolaan Sumber Daya Air yang dilakukan pemerintah saat ini.

Bahkan pemerintah cenderung melegalkan pembatasan akses masyarakat terhadap air bersih dengan mendesain pembangunan yang justru mencemari sumber air bersih bagi masyarakat.

"Seperti hancurnya akses air bersih masyarakat di sekitar Sungai Susup akibat proyek amburadul PLTA Musi yang sangat merusak lingkungan dan bagaimana Sungai Air Bengkulu yang menjadi sumber PDAM Kota Bengkulu yang tingkat pencemarannya sangat tinggi dan tidak layak konsumsi," jelasnya.

Oka berharap pemerintah bisa membentuk sebuah forum, badan atau dewan yang bisa mengkoordinasikan aktivitas sejumlah pihak yang bertanggung jawab atas kelestarian sumber daya air seperti Balai Pengelolaan DAS dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) bidang pengairan.

"Seharusnya dua pihak ini juga sudah bisa melakukan tugasnya untuk kelestarian sumber daya air dan yang lebih penting pemerintah kita mau belajar dari situasi yang ada jika tidak ingin Bengkulu mengalami bencana krisis air," katanya.(Ant)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Orang Bajo dan Pohon Bakau yang Tersisa di Soropia

Suasana Desa Bajo Indah.
Foto: Kamaruddin Azis .

Banyak orang menganggap bahwa Sulawesi Tenggara, adalah kampung kedua bagi warga Sulawesi Selatan. Berangkat dari anggapan ini, dilengkapi dengan bacaan sejarah dan fakta mengenai pengaruh kaum pendatang dari Selatan di ujung kaki pulau Sulawesi ini, citizen jurnalist reporter yang selama ini aktif di panyikul.com, Kamaruddin Azis mencoba membaca ulang hubungan-hubungan sosial budaya tersebut dengan mengamati geliat masyarakat Bajo di satu desa pesisir di bagian timur kota ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara. Berikut ulasanya

Setelah diguyur hujan semalam, pagi itu Kota Kendari sedang cerah. Kami meninggalkan kota menuju arah pesisir timur. Setelah melewati Kampung Salo dan Kessi Lampe, pandangan kami tertuju pada pohon-pohon bakau yang rindang dan padat. Pohon-pohon yang menghijau di sepanjang teluk Kendari. Pemandangan itu menjadi tak biasa karena vegetasi ini memang teramat langka dijumpai di kota lainnya.

Pohon bakau terlihat tinggi da…