Langsung ke konten utama

Indonesia Terancam Kehilangan Pulau-Pulau Kecil

Jatinangor,Greenpress - Negara Indonesia terancam kehilangan pulau-pulai kecil yang belum berpenghuni, dan sebagian pulau-pulau di wilayah perbatasan pun hampir tenggelam karena dampak pemanasan global.

Penyebab lainnya adalah era perdagangan bebas (free trade), serta masalah geo-politik yang berkaitan dengan perjanjian perbatasan wilayah teritorial dengan negara tetangga, kata pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Ir Sentot Widjaya MM pada seminar di kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor, Rabu.

Disebutkan, Indonesia mempunyai sekitar 17.504 pulau dan 5.073 sudah mempunyai nama. Sedangkan jumlah pulau yang sudah dihuni berjumlah 544 pulau.

Pejabat DKP itu menolak adalanya anggapan hilangnya pulau-pulau kecil tersebut disebabkan "jual-beli" pulau.

"Saya mewakili DKP tidak setuju jika ada istilah `jual-beli` pulau. Sampai sekarang yang ada hanya pengelolaan, itupun peraturannya sudah jelas," tegasnya.

Tidak disebutkan jumlah pulau -pulau kecil yang telah hilang baik itu karena pemanasan global, maupun sengketa politik.

Semenjak otonomi daerah, maka pengelolaan pulau-pulau kecil tersebut diambil alih oleh daerah. Sementara pemerintah pusat hanya bertugas mengawasi.

"Jika penyebab hilangnya pulau karena tenggelam, maka hal ini tidak akan mengurangi luas dan batas negara Indonesia," ucapnya.

"Sudah ada deklarasi Juanda yang sudah diakui oleh dunia tentang batas garis lintas Indonesia dan PBB sudah mencatat batas sah negara Indonesia," ucap Sentot seperti dilansir Antara.

Pulau-pulau kecil mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Namun banyak penginvestor `enggan` menanam sahan karena biayanya sangat besar.

Pada akhir tahun 2008, kegiatan toponomi pulau-pulau kecil di Indonesia sejak tahun 2005 ? 2008 telah mencakup 33 Propinsi dan telah selesai 100 persen.

Untuk menarik minat investor serta meningkatkan potensi pengembangan pulai-pulai kecil, pemerintah telah meningkatkan fasilitas, seperti membangun listrik tenaga surya, sarana air bersih, penerangan, jalan di pulau-pulau tersebut.(Ant)


Komentar

Anonim mengatakan…
Maaf, kalau tidak salah website ini peduli LINGKUNGAN HIDUP....namun content PALESTINA koq nempel??? konsisten lah....bravo go green!

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut

Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang TelukKendari perlahan mulai redup, seiring maraknya pembangunan pemukiman di sekitarnya.