Langsung ke konten utama

Papua New Guinea Umumkan Area Konservasi Nasional Pertama

Denpasar -Greenpress- Papua New Guinea, negara di tenggara Samudera Pasifik, tempat di mana keragaman ekosistem biologis di dunia berada, telah menciptakan kawasan konservasi pertamanya untuk mempertahankan apapun di dalam kawasan hujan hujan tropisnya, dalam satu wilayah yang lebih luas daripada Singapura.


Keputusan pemerintah itu terjadi berkat kerja sama dan kesepahaman dengan masyarakat setempat, yang dijembatani Kawasan Konservasi YUS, yang telah memakan waktu lebih dari satu dasawarsa. Kerja sama dan kesepahaman itu juga terjadi berkat kesertaan Kebun Binatang Taman Woodland di Seattle dan Arlington, Virginia, Amerika Serikat, yang berinduk kepada Konservasi Internasional.

Dalam siaran persnya di Denpasar, menyatakan, kawasan konservasi YUS itu meliputi tiga daerah aliran sungai utama di sana, yaitu Sugai Yopno, Sungai Uruwa, dan Semenanjung Huon, secara total melingkupi area seluas 760 kilometer persegi, mulai dari kawasan pantai utara Papua New Guinea hingga ke pegunungan dalamnya.

Kawasan konservasi itu dikelola berdasarkan konsep konservasi modern yang memberi keuntungan bagi kehidupan alam liar dan juga manusia yang menghuni kawasan itu. Hujan hujan tropis itu diketahui menyimpan karbon dalam jumlah mencengangkan sehingga melindunginya berarti mencegah pelepasan gas rumah kaca yang membahayakan dunia melalui pemanasan globalnya.

Kawasan itu juga menjadi tempat bernaung bagi sekitar 10.000 warga setempat, selain menjadi habitat bagi kanguru pohon jenis matschie, jenis yang tercantum dalam Daftar Merah IUCN. Jenis ini sangat unik karena memiliki kepala seperti beruang, ekor berambut tebal, dan kantong besar sebagaimana layaknya hewan marsupialia.

Dr Lisa Dabek, Direktur Konservasi Kebun Binatang Taman Woodland, juga Direktur Program Penyelamatan Kanguru Pohon, menyatakan, "Dengan menciptakan kawasan pertama konservasi di negara ini, pemerintah dan masyarakat negara ini telah membangun zone aman bagi kawasan dengan biodiversitas yang tidak tergantikan di dunia ini. Dalam jangka panjang, kawasan ini akan menyumbang bagi upaya penanggulangan perubahan iklim global."

Kebun binatang dari Amerika Serikat dengan majalah National Geographic dan CI, telah bahu-membahu dengan pemerintah PNG dan pemilik lahan setempat selama lebih dari 12 tahun untuk membangun Area Konservasi YUS. Kawasan ini pertama kali dideklarasikan sebagai kawasan konservasi melalui Undang-undang Kawasan Konservasi PNG pada 1978. Kawasan ini juga mewakili lebih dari 35 desa asli di kawasan itu, yang bergabung bersama untuk mendukung undang-undang tersebut.

Saat tanah di kawasan itu masih dimiliki orang perorang, warga kampung secara formal berkomitmen melarang segala bentuk kegiatan pembangunan, mulai dari penebangan pohon hingga penambangan. Deklarasi tentang manajemen kawasan konservasi yang lebih mutakhir bersifat lebih permisif terhadap kegiatan penebangan pohon, pertambangan, dan aktivitas lain yang bersifat destruktif.

Dengan melindungi kawasan hutan hujan tropis ini di Kawasan Konservasi YUS, berarti mencegah pelepasan sekitar 13 juta ton karbon dari biomassa di dalam hutan ke udara, yang berubah bentuk menjadi karbondioksida.

"Kawasan konservasi baru ini menunjukkan betapa baik hasil yang bisa diraih jika pemerintah dan masyarakat bergandengan tangan," kata Presiden CI, Russell A Mittermeier seperti dikutip Antara. Dia menyatakan, "Selamat pada pemerintah PNG dan komunitas di kawasan ini karena bersedia mempertahankan kawasan ekosistem esensial ini, juga bagi berbagai keuntungan yang bisa mereka dapat nanti, saya harap banyak kawasan serupa lain di dunia ini yang secara simultan mau meniru langkah seperti ini."

Mempertahankan biodiversitas di PNG jadi masalah rumit mengingat keunikan negara itu dalam aspek sosial dan geopolitiknya. Negara itu memiliki sistem kepemilikan lahan yang tidak kalah rumit, karena lahan di pedalaman banyak dimiliki klan keluarga dan tuan tanah lokal(Ant)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

ACARA GREEN FESTIVAL 2008

Jalan Masuk

Acara Green Festival 2008 sendiri akan mengambil tempat di Parkir Timur Senayan. Dari layout gambar yang dirilis panitia, pintu masuk Greenfest berada di sisi utara Parkir Timur Senayan, sedangkan panggung utama berada di ujung selatannya (membelakangi jalan raya Sudirman).


Untuk mempermudah akses masuk ke Green Festival, Anda disarankan masuk ke komplek Senayan melalui Century Atlit (Jl Pintu 1) atau TVRI (Jl Gerbang Pemuda) untuk selanjutnya langsung menuju Parkir Timur Senayan.

Pentas Musik
- T ai ko Jepang (alat tabuh): Jumat 16.10
- Choir Kid Purwacaraka: Jumat 16.25
- Capoeira: Jumat 19.05
- Nugie: Jumat 20.10
- Letto: Jumat 20.45
- SD Citra Indonesia : Sabtu 10.30
- Dwiki & The Next Gen: Sabtu 13.25
- SD & SMA Harapan Bangsa: Sabtu 14.25
- Nabila & Smart: Sabtu 15.45
- Ulli Sigar Rusady & Super Bintang: Sabtu 19.05
- Maliq & d'Essentials: Sabtu 19.25
- Marcell: Sabtu 20.15
- Ta ta loe: Minggu 10.30 & 17.00
- Bina Vokalia: Minggu 1…

Negara Kepulauan Tuntut Amandemen Protokol Kyoto

Tuvalu, salah satu negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Foto : Google.

Kopenhagen, BL-Di tengah negosiasi yang alot COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Tuvalu dan sejumlah negara kepulauan menuntut Amandemen Protokol Kyoto dalam pertemuan Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP) di Bella Center kemarin.

Pertemuan itu membahas amandemen annex B, sebagai bagian dari periode kedua dari komitmen Protokol Kyoto. Tuvalu, salah satu negara kepulauan Pacific yang mendukung pelaksanaan mengusulkan amandemen target menjaga tingkat kenaikan suhu bumi di bawah atau tak lebih dari 1,5 derajat selsius dan konsentrasi gas rumah kaca tak lebih dari 350 ppm. Lebih tinggi dari kesepakatan sebelumnya, yang hanya 2 derajat celcius.

Hal tersebut dilaporkan Siti Maemunah dari Jatam yang juga turut hadir dalam COP 15 UNFCCC. Menurut Maemuna, Tuvalu adalah salah satu negara kepulauan di Asia pasifik yang harus lintang pukang bertahan hidup aki…