Langsung ke konten utama

KLH akan Hitung Cepat Data Sampah

Jakarta,Greenpress - Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) berencana melakukan hitung cepat data sampah di kota dan kabupaten di Indonesia agar tersedia data dan informasi akurat tentang sampah.


Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Gempur Adnan pada jumpa pers terkait Rapat Kerja Teknis Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH di Jakarta, Selasa, mengatakan, hitung cepat sampah dilakukan karena banyak sekali kota dan kabupaten yang belum mempunyai data dan informasi akurat mengenai produksi sampah di daerah masing-masing.

"Apabila kota-kota tidak mempunyai data sampah, maka perencanaan pengelolaan sampah amburadul. Contoh kota Bandung saat terjadi bencana TPA (tempat pembuangan sampah akhir) Leuwigajah," katanya seperti dikutip Antara.

Pelaksana tugas Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Skala Kecil KLH Tri Bangun Laksono mengatakan, selama ini data mengenai sampah di kabupaten dan kota tidak akurat karena data yang digunakan berdasarkan pada angka rata-rata tiap orang membuang sampah 2,4 - 2,5 liter per hari.

"Padahal asumsi itu berlaku pada tahun 90-an yang sekarang sudah tidak valid. Suatu survei mengatakan sekarang ini di permukiman memproduksi lima liter sampah per hari per orang," katanya.

Tri Bangun Laksono yang lebih akrab dipanggil Soni mengatakan, selama ini pemkab/pemkot menghitung data sampah dengan hanya menghitung sampah yang masuk ke TPA.

"Padahal sampah yang masuk ke TPA hanya 60 persen dari total sampah. Sisanya sebanyak 40 persen dibuang ke sungai-sungai, gorong-gorong atau taman," katanya.

Cara lainnya yang akan dilakukan adalah mengestimasi hasil perkalian antara jumlah populasi dengan tingkat timbunan sampah per kapita.

Soni mengatakan, kebutuhan data sampah yang akurat sudah sangat mendesak sebagai implementasi UU N0.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah bahwa setahun setelah diundangkannya UU No.18 tersebut (Mei 2009) sudah ada kebijakan dan strategi pengelolaan sampah di tingkat kabupatan dan kota.

"Lima tahun setelah UU Sampah itu diundangkan, diamanatkan tidak boleh lagi ada pembuangan sampah terbuka," katanya.

Soni mengatakan, ada delapan variabel dalam penghitungan cepat data sampah di suatu daerah yaitu (1) permukiman/perumahan termasuk apartemen dan rumah susun, (2) kawasan industri/manufaktur, (3) pasar tradisional, (4) kawasan perdagangan, (5) fasilitas publik, (6) ruang terbuka hijau, (7) kegiatan jasa dan (8) lain-lain.

Dari data KLH 2007 menunjukkan, volume timbunan sampah di 194 kabupaten dan kota di Indonesia mencapai 666 juta liter atau setara 42 juta kilogram, dimana komposisi sampah plastik mencapai 14 persen atau enam juta ton.

Berdasarkan produksi sampah per orang yaitu 800 gram per hari dan dengan 220 juta jumlah penduduk maka diperkirakan jumlah timbunan sampah nasional mencapai 176 ribu ton per hari. (Ant)

Komentar

shigite_ndonesiaku mengatakan…
wahh_
saat ini udah ngeri sampah yang ada di sekitar kita..

kayaknya di sebagianbesar kota di negeri ini, blom ad pnglolaansampah terpadu...
di samping itu_msyarakat kita masih suka buang sampah seenakny...

kasihilah alam ini..

ayooo!!save the earth!!
buang sampah pd tempatnya yuks!
pulsa elektrik murah mengatakan…
sudah saatnya di laksanakan alternatif pengolahan sampah dan juga setiap kecamatan di indonesia sudah harus bisa mengolah sampah sendiri,sehingga beban TPA sebagai tempat akhir sampah bisa di kurangi

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut

Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang TelukKendari perlahan mulai redup, seiring maraknya pembangunan pemukiman di sekitarnya.