Greenpeace Tagi Janji SBY Dalam Pengurangan Emisi


Aktivis Greenpeace memakai topeng wajah Presiden AS Obama dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berpose di depan spanduk yang berbunyi "cukup berbicara saatnya bertindak – lindungi hutan untuk masa depan" di depan Bunderan HI.

Jakarta, BERLING-Aktivis Greenpeace di sejumlah kota besar di Pulau Jawa melakukan aksi untuk mendorong komitmen Presiden Yudhoyono mengurangi emisi karbon Indonesia dan meminta janjinya ini

Dalam aksinya lebih dari 400 aktivis berkumpul di Monumen Nasional dan berjalan menuju Bunderan Hotel. Mereka juga membentangkan banner bertuliskan “cukup berbicara saatnya bertindak – lindungi hutan untuk masa depan”.

Aksi serupa juga dilakukan akivis pendukung Greenpeace di Surabaya, Semarang, Bandung. Mereka mendesak SBY agar segera mewujudkan janjinya menjadi aksi nyata dengan menghentikan deforestasi untuk menanggulangi bencana perubahan iklim. Pada pertemuan G20 di Pittsburgh beberapa waktu lalu, Presiden Yudhoyono memperlihatkan kepemimpinan iklimnya dengan mengeluarkan komitmen menurunkan emisi Indonesia 26 persen pada 2020 – akan menjadi 41 persen dengan dukungan internasional.

“Presiden Yudhoyono telah memperlihatkan kepemimpinannya dengan berkomitmen mengurangi emisi karbon. Sekarang anak-anak muda ini melakukan aksi untuk mendorong komitmen ini menjadi aksi nyata dengan secepatnya menghentikan deforestasi,” ujar Yuyun Indradi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

“Perubahan iklim yang cepat akan mempengaruhi seluruh kehidupan; sekarang semuanya tergantung pada para pembuat kebijakan untuk memastikan generasi muda memiliki masa depan yang bebas dari perubahan iklimyang berbahaya”jelasnya.

Sebelumnya, Greenpeace juga membuka Kamp Pelindung Iklim atau Climate Defenders Camp di Semenanjung Kampar tiga minggu lalu, dengan dukungan kuat masyarakat setempat, untuk menyoroti perusakan hutan di lahan gambut oleh perusahaan kertas.

Semenanjung Kampar adalah salah satu penyimpan an Version belowkarbon terbesar di dunia dengan kedalaman hingga 15 meter, menyimpan lebih dari dua miliar ton karbon. Jika lahan gambut Kampar dirusak untuk industri pulp dan kertas maka akan menambah emisi Indonesia dan bertentangan dengan komitmen Presiden Yudhoyono.

Perusakan di Semenanjung Kampar merupakan potret perusakan hutan yang terjadi di seluruh Indonesia, yang telah membuat Indonesia menjadi negara pengemisi terbesar ketiga di dunia. Namun awal minggu ini, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memerintahkan perusahaan pulp dan kertas Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL) menghentikan sementara aktifitas penggundulan hutan Kampar sementara pemerintah melakukan kajian ulang atas perijinannya.

“Asia Tenggara adalah kawasan yang paling rentan tetapi paling tidak siap menghadapi perubahan iklim. Kami menyambut baik komitmen Presiden demi menyelamatkan masa depan Indonesia. Sekarang saatnya tindakan nyata harus dilakukan, dengan cara sesegera mungkin melindungi hutan alam dan gambut kita yang sangat berharga,” ujar Nur Hidayati, Perwakilan Indonesia, Greenpeace Asia Tenggara. (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: