Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 17, 2009

Parlemen Eropa Mendukung Pengurangan Daging

Parlemen Eropa mendukung pengurangan daging untuk menurunkan gas rumah kaca. Selama diskusi mengenai target pengurangan gas rumah kaca, Komite Iklim Parlemen Eropa secara resmi mengakui kontribusi peternakan terhadap pemanasan global dan merekomendasikan peninjauan ulang terhadap subsidi yang diberikan kepada industri peternakan untuk menurunkan metana.


Jens Holm, anggota parlemen Eropa dari Swedia, menuturkan bahwa pengaruh terbesar yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengurangi konsumsi daging atau berhenti total makan daging. Anda akan menciptakan surplus pangan yang dapat digunakan untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan saat ini.(Jensholm)

Kerajinan Ramah Lingkungan Disukai Pasar Ekspor

Yogyakarta- Produk kerajinan yang berbahan baku ramah lingkungan masih tetap disukai oleh pasar ekspor, sehingga dapat menjadi peluang besar bagi para perajin Indonesia, kata Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (APIKRI), Amir Panzuri.

Di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan, produk kerajinan yang ramah lingkungan adalah yang bahan bakunya dari alami yang bisa dikembangkan dan selalu bisa terbarukan.

"Selain itu, bukan dari bahan baku dari bahan tambang yang untuk memperolehnya bisa merusak lingkungan. Juga bukan bahan baku dari barang yang langka dan tidak bisa terbarukan," katanya seperti dikutip Antara.

Ia mencontohkan, produk kerajinan ramah lingkungan yang memiliki prospek baik di pasar ekspor, diantaranya anyaman serat daun pandan, yang bahan bakunya bisa diperoleh dengan mudah dan diperbarui dengan penanaman kembali jenis tanaman pandan tersebut.

Selain itu, produk kerajinan dengan bahan baku dari kayu pohon cepat tumbuh dan tidak harus merusak…

Polisi Pandeglang Tangkap 11 Pembalak Kayu Liar

Pandeglang - Polisi Pandeglang berhasil menangkap 11 pembalak kayu liar sepanjang tahun 2008, dan para tersangka tengah menjalani sidang pengadilan hingga ada yang di penjara.


Kepala Satuan Resese dan Kriminal Kepolisian Resort (Kasatreskrim Polres) Pandeglang, AKP Yusup Rahmanto, mengatakan bahwa dari 11 tersangka pembalak kayu liar itu ada empat kasus di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kecamatan Sumur, dan satu lagi kasus di Perum Perhutani Kecamatan Angsana.

Pelaku ada yang dijatuhkan hukuman selama 10 tahun, yakni pembalakan liar di TNUK itu.

"Hukuman selama 10 tahun ini, agar masyarakat tidak mengulangi kembali karena TNUK merupakan hutan konservasi," katanya seperti dilansir Antara.

Dia menyatakan, kasus pembalakan liar pihaknya tidak akan main-main karena bisa menimbulkan bencana banjir dan longsor.

Selain itu, kondisi hutan konservasi harus dilindungi dan dijaga bahkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tersangka pembalakan liar di TNUK bisa dihukum penjara 10 tahun.

Ia …