Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 11, 2009

Penggunaan BBN Ancam Kerusakan Lingkungan

Bandung, Greenpress- Penggunaan bahan bakar nabati (BBN) dikhawatirkan menimbulkan ancaman bagi kerusakan lingungan dan juga kerusakan sosial yang lebih besar.

Dr Tjandra Setiadi dosen Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) mensinyalir hal tersebut di Bandung.

Penerapan BBN memerlukan lahan yang luas, dan sebagai pemerhati lingkungan atau institusi lingkungan tentu amat prihatin dengan kondisi seperti itu. "Kita akan menghadapi water conflict (krisis air)," ucapnya seperti dilansir Antara.

Penggunaan BBN di Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai sekitar 15,9 miliar liter per tahun masing-masing untuk etanol dan biodiesel. Diperkirakan kebutuhan lahan khusus untuk produksi BBN tersebut sekitar 6,6 juta hingga 11,6 juta hektare.

Studi Life Cycle Assessment tentang BBN melaporkan bahwa pemakaian BBN dari bahan baku tanaman pangan sebagai bahan baku dapat mengurangi gas rumah kaca (GRK). BBN juga diteliti memiliki energi total lebih tinggi d…

Sungai Tercemar, Suku Sakai Sulit Cari Ikan

Pekanbaru - Warga Suku Sakai, suku asli Riau, mengeluhkan makin sulit mencari ikan di sungai yang sudah tercemar limbah pabrik kelapa sawit di Kabupaten Bengkalis.

Demikian disampaikan Ketua Suku Sakai, Momo, kepada ANTARA di Dusun Samsam, Kecamatan Pinggir, Bengkalis, Rabu.

"Sekarang warga harus mencari ikan jauh ke hulu dan bisa sampai seminggu baru dapat ikan," kata Momo.

Menurut Momo, sebanyak 20 kepala keluarga di dusun itu berangtung pada Sungai Samsam yang tak jauh dari permukiman Suku Sakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hasil dari mencari ikan selama ini digunakan untuk makan keluarga sehari-hari mereka dan sebagian untuk dijual.

Namun selama setahun tarakhir, ujar Momo, jumlah tangkapan ikan di sungai tersebut makin sedikit. Bila sebelumnya warga dapat menjaring hingga 10 kilogram ikan dalam sehari, namun kini jumlah tangkapan ikan hanya 3-5 kilogram akibat tercemarnya air sungai.

"Akibat tercemar, air sungai menjadi keruh dan terkadang berwarna putih berbuih,&quo…

Papua New Guinea Umumkan Area Konservasi Nasional Pertama

Denpasar -Greenpress- Papua New Guinea, negara di tenggara Samudera Pasifik, tempat di mana keragaman ekosistem biologis di dunia berada, telah menciptakan kawasan konservasi pertamanya untuk mempertahankan apapun di dalam kawasan hujan hujan tropisnya, dalam satu wilayah yang lebih luas daripada Singapura.


Keputusan pemerintah itu terjadi berkat kerja sama dan kesepahaman dengan masyarakat setempat, yang dijembatani Kawasan Konservasi YUS, yang telah memakan waktu lebih dari satu dasawarsa. Kerja sama dan kesepahaman itu juga terjadi berkat kesertaan Kebun Binatang Taman Woodland di Seattle dan Arlington, Virginia, Amerika Serikat, yang berinduk kepada Konservasi Internasional.

Dalam siaran persnya di Denpasar, menyatakan, kawasan konservasi YUS itu meliputi tiga daerah aliran sungai utama di sana, yaitu Sugai Yopno, Sungai Uruwa, dan Semenanjung Huon, secara total melingkupi area seluas 760 kilometer persegi, mulai dari kawasan pantai utara Papua New Guinea hingga ke pegunungan dalamn…

Bupati Datang, Pengolah Kayu Berhenti Sementara

Kolaka, Greenpress-Ada yang menarik dari perjalanan Bupati dan Wakil Bupati Kolaka serta Komandan Kodim 1412 Kolaka ke Desa Awiu Kecamatan Lambandia, Senin (2/3), yakni berhentinya sementara aktifitas pengolahan kayu sepanjang jalan Iwoimenggura-Taore .

Padahal, pekan lalu, saat Bupati Buhari Matta untuk pertama kalinya berkunjung ke Desa Taore dan Awiu, Buhari sempat "geleng-geleng"

kepala menyaksikan perambahan hutan yang tak terkendali, sehingga kepala Dinas Kehutanan mendapat teguran.

Betapa tidak, saat itu, sepanjang perjalanan dari Desa Iwoimenggura ke Desa Taore, Bupati mendapati kawanan pengolah kayu yang tengah beraktivitas. Puluhan tenda-tenda para pengolah kayu berdiri sepanjang jalan, sementara raungan puluhan mesin gergaji bersahut-sahutan terdengar dari dalam hutan.

Sementara beberapa gugusan pegunungan terlihat sudah gundul akibat penebangan kayu yang tak terkendali, apalagi diperparah dengan pembukaan kebun. Belum ada informasi tentang berapa luas potensi kerusak…

Perakit Bom Ikan di Soropia Konawe Ditangkap

Konawe, Greenpress-Ndadi, seorang nelayan di Desa Bokori, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara harus berurusan dengan polisi setelah kedapatan tengah meracik bom ikan di rumahnya . Polisi menangkapnya setelah mendapatkan laporan warga sekitar seputar kegiatan di rumah Ndadi.

Saat menangkap Ndadi polisi menemukan sejumlah bahan-bahan yang diduga akan dipakai meracik bahan peledak bom ikan.

Bahan-bahan peledak itu terdiri dari pupuk, sembilan botol kosong, puluhan sumbu serta korek api. “Dengan keberadaan sejumlah bahan tersebut kami menduga jika bahan-bahan itu akan digunakan sebagai bahan peledak yakni untuk pembuatan bom ikan,”kata Iptu Samin, Kasatreskrim Polresta Kendari.

Semnatar tersangka Ndadi mengaku mendapatkan bahan-bahan seperti pupuk dari seseorang yang datang dengan menggunakan kapal yang hendak ke Kota Palu Sulawesi Tengah. Ia membeli pupuk seberat empat kilogram dengan harga 25 ribu rupiah per kilo.

Ndadi membantah bila bahan-bahan itu akan diracik dan dija…

Era Baru, Sejarah Baru di Wakatobi

By : Yos Hasrul,
Cuaca cukup cerah saat pesawat merpati MA-60 mendarat mulus di Bandara Matahora, di pulau wangiwangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ribuan warga dari berbagai penjuru desa menyaksikan sejarah baru mendaratnya ”burung besi” di wilayah mereka. Ya, inilah terobosan pembangunan yang digagas Pemerintah Daerah Wakatobi untuk memutus mata rantai keterbelakangan akses transportasi di daerah berjuluk kepulauan Tukang Besi ini.

Maklum saja, selama berpuluh tahun sejak negara ini merdeka hingga ”jaman emas” pembangunan Indonesia, sentuhan pembangunan di daerah ini nyaris tak tersentuh dan sangat terbelakang dibanding dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara. Tak heran jika angka kemiskinan di Kepulauan Wakatobi sangat tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 1994 – 2000 prosentase angka kemiskinan di daerah ini mencapai 60 persen.

Alih-alih mendapat sentuhan pembangunan, malah selama beberapa dekade kepulauan tukang besi selalu identik dengan daerah keras, bahkan mend…

Gubernur Tanggapi Penolakan Mahasiswa

Kendari, Greenpress-Aksi demo penolakan penurunan status kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi seluas 481 ribu hektare ditanggapi santai Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE. Ia mengatakan, aksi itu hal yang biasa dalam alam demokrasi.

"Tidak apa-apa. Itu hal biasa. mereka itu hanya belum ketemu saya saja. Kalau sudah ketemu saya akan beri penjelasan, bila perlu turun lapangan bersama-sama," ujar Nur Alam kemarin.

"Mestinya yang harus disoroti adalah mereka yang melakukan peladangan liar, yang di bek up oknum-oknum tertentu, seperti di Konawer Utara ,"tambah Nur Alam.

Menurut Nur Alam, hasil pantauan dari udara, sudah menjadikan kawasan hutan-hutan yang masih perawan dirambah, dan tidak ada yang bertanggung jawab.

"Mestinya ini yang disoroti. Kalau pemerintah, pasti punya komitmen untuk menjaga kelestarian, dan keberlanjutan dari pada pelaksanaan pembangunan demi pelestarian lingkungan hidup," ujarnya. (Yos Hasrul)


Sembarang Buang Sampah Bakal Didenda

Kendari,Greenpress-Kerja keras Pemkot mengejar Adipura 2009 dengan menurunkan PNS, Muspida dan organisasi masyarakat melakukan kerja bakti ternyata belum mengubah perilaku sebagian masyarakat menghargai hidup bersih. Itu terbukti setelah ditangkapnya dua buah mobil pengangkut sampah dari toko bangunan yang hendak membuang sampah sembarang tempat.

Perilaku itu diketahui setelah Wali Kota Kendari, Asrun menginstruksikan agar Satpol PP mengontrol semua titik pantau selama 24 jam. Kedua mobil yang berhasil diamankan Satpol PP adalah milik Toko Bangunan Cahaya Aluminium dan Harapan Wua-Wua. Hanya dalam waktu satu pekan, dua mobil pembuang sampah liar disita saat hendak membuang sampah di sekitar jalan By Pass.

Kedua mobil tersebut dilepas dengan catatan, harus menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulang perbuatan yang melanggar perda nomor 4 tahun 1996 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3). Wali Kota Kendari, Asrun mengatakan dirinya cukup prihatin dengan perilaku masyar…