.

.
.

Greenpeace Blokade Kapal di Teluk Binjai


Aksi blokade kapal yang dilakukan aktivis Greenpeace,foto: Modeerf Tserof/Greenpeace

Pekanbaru,GreenPress-Aktivis Greenpeace kembali memblokade kapal tongkang Teluk Binjai, Pelalawan, Provinsi Riau, yang mengangkut ribuan meter kubik kayu yang berasal dari hutan alam di Semenanjung Kampar.

Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “APRIL Hentikan Merusak Masa Depan Kami” dan mendesak perusahaan pulp and paper raksasa APRIL serta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan perusakan hutan.

Dalam aksinya 25 aktivis berusaha menghentikan kegiatan muat tongkang kayu dari hutan alam lahan gambut semenanjung Kampar yang kaya karbon Kampar, yang akan dibawa ke Pabrik bubur kertas milik APRIL di Pangkalan Kerinci (15/7). Ini adalah aksi kedua aktivis Greenpeace untuk menghentikan APRIL merusak hutan alam di Kampar.

Setelah aksi Greenpeace pada Oktober 2009 lalu. Menteri Kehutanan sempat memerintahkan penghentian sementara penebangan hutan yang dilakukan olehAPRIL. Perintah penghentian sementara ini juga diucapkan Menteri saat berkunjung dan bertemu masyarakat Desa Teluk Meranti.

Namun belakangan Kementerian Kehutanan malah mengeluarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang mengizinkan perusahaan merusak 22 ribu hektar hutan di Semenanjung Kampar." ini bertolak belakang dengan komitmen menteri kehutanan,”kata Zulfahmi, Juru kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara melalui siaran persnya.

Berbekal RKT ini lanjut Zulfahmi, APRIL telah kembali beroperasi menghancurkan hutan Kampar, meski masyarakat lokal dari Teluk Meranti dan Teluk Binjai masih menentang operasi ini. “Operasi APRIL dan APP menyebabkan kehancuran besar-besaran hutan kita dan menghancurkan sumber penghidupan ribuan masyarakat setempat yang menggantungkan hidupnya pada hutan, keanekaragaman hayati serta memperparah emisi karbon yang yang di hasilkan Indonesia,”terangnya.

Menurut Zulfahmi, pemerintah seharusnya mendukung masyarakat yang telah berinisiatif untuk merestorasi lahan gambut demi mengatasi perubahan iklim. Ini adalah kesempatan bagi pemerintah untuk memilih antara menyelamatkan warisan berharga lingkungan bagi generasi mendatang Indonesia dan kepentingan perusahaan-perusahaan pulp and paper raksasa yang tamak. (Marwan Azis).

Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: