Langsung ke konten utama

TNI, Polri dan Demam Sepeda


“Bersepeda supaya sehat,” itulah satu alasan yang diungkapkan sejumlah penggiat sepeda di silang Monas ketika ditanya alasan mereka bersepeda. Dulu bersepeda menjadi aktivitas yang identik dengan anak-anak. Namun kini seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan lingkungan membuat orang ramai-ramai kembali bersepeda.

Ini pula dilakoni sejumlah anggota TNI dan Polri dalam beberapa tahun ini mulai aktif bersepeda baik ke kantor maupun hanya sekedar mengisi liburan akhir pekan. Salah seorang diantara adalah Sersan Mayor Bambang, yang sehari-hari bekerja di Kodam Jaya wilayah Tangerang mengaku bersepeda supaya sehat dan staminanya terjaga.”Saya dalam beberapa tahun terakhir ini aktif kembali bersepeda baik menuju ke kantor yang jaraknya sekitar 9 kilometer dari rumah. Termasuk saat liburan akhir pekan bersama keluarga dan teman-teman,” akunya.

Baginya, fungsi utama bersepeda, selain bermanfaat bagi kesehatan, juga sangat bagus untuk menambah pertemanan. “Apalagi sekarang makin banyak komunitas sepeda, tentunya akan semakin banyak kawan jika aktif diberbagai kegiatan sepeda. Hampir setiap akhir selalu ada acara gowes ke Bogor dan Puncak, saya selalu berusaha ikut,” ujarnya.

Virus kesadaran mengayuh sepeda pun tumbuh di kalangan anggota TNI lainnya.”Saat ini semakin banyak teman-teman yang senang bersepeda baik ke kantor maupun sekedar mengisi waktu luang. Hingga sekarang khusus Kodam Jaya 0506 Tangerang mungkin sudah ada 25 persen anggota sudah bersepeda,” ungkap anggota TNI asal Temanggung Jawa Tengah ini.

Berkembangnya budaya bersepeda di kalangan TNI di Jakarta dan sekitarnya, menginspirasi pimpinan Kodam Jaya menggelar parade sepeda santai yang mengusung tema lingkungan hidup, “Green Bicycle Parade”pada HUT 61 Kodam Jaya yang juga didukung penuh oleh Komite Sepeda Indonesia (KSI) di lapangan Monas Jakarta (26/12). Acara tersebut diramaikan sekitar 20 ribu peserta baik dari kalangan TNI maupun dari masyarakat umum.

Pangdam Jaya, Mayjen TNI Marciano Norman, berharap kedepan semakin banyak anggota TNI dan masyakarat yang bersepeda. “Semoga budaya bersepeda di antara kita semakin meningkat dan kualitas lingkungan kita semakin baik kedepan,”tandas mantan Komandan Paspampres itu.

Polwan bikers




Geliat bersepeda juga menghinggapi anggota polwan Polda Metro Jaya, yang juga turut ambil bagian dalam parade sepeda santai yang digelar Kodam Jaya. Iptu Siti Sunari wakil koordinator regu sepeda Polwan Polda Metro jaya dalam acara Green Bicycle Parade yang ditemui disela acara mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah anggota polwan makin banyak yang ikut bersepeda.

“Kalau kami setiap hari Minggu ada kegiatan rutin bersepeda dari kantor Polda ke Monas termasuk ke tempat-tempat keramaian seperti Ancol. Ini menjadi program wajib bagi Polwan dan Polki untuk ikut patroli dengan menggunakan sepeda. Tujuanya adalah untuk memperat hubungan polri dan masyarakat agar lebih bersahabat,”tandas ibu yang kini berdomisili di Bambu Apus, Taman Mini Indonesia Jakarta Timur.

Ibu empat orang anak ini dan telah mengabdi selama 33 tahun di Polda Metro Jaya ini mengaku, sejak SD sudah terbiasa dengan sepeda.“Ketika saya duduk di bangku SMA, saya menggunakan sepeda ke sekolah karena jarak sekolah dari rumah lumayan jauh,”ungkap alumnus SMA Katolik Cilandak.

Bagi Sunari, bersepeda sangat bermanfaat bagi kesehatan. ”Saya merasa sehat dan tetap pit, meskipun umur saya sudah kini mencapai 54 tahun, tapi masih merasa oke karena kebiasan bersepeda setiap hari minggu,”tandas ibu yang mengaku mulai aktif kembali bersepeda sejak tahun 2005 lalu.(CB/Marwan Azis)

Komentar

Virtual Forest mengatakan…
Pengen naik sepeda dari Jakarta ke Lombok. Kira-kira ada yang mau jadi sponsor gak ya? Mau backpacker ke Rinjani naik sepeda.
fahmi mengatakan…
mas tingkatkan lagi blogger nd info'a..

blog sma info'a bgus mass..

salam kenal,,,

Postingan populer dari blog ini

Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor

Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan …

Otto Soemarwoto, Guru Besar Pro Lingkungan & NKRI

Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup.


Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah.

Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di…

Orang Bajo dan Pohon Bakau yang Tersisa di Soropia

Suasana Desa Bajo Indah.
Foto: Kamaruddin Azis .

Banyak orang menganggap bahwa Sulawesi Tenggara, adalah kampung kedua bagi warga Sulawesi Selatan. Berangkat dari anggapan ini, dilengkapi dengan bacaan sejarah dan fakta mengenai pengaruh kaum pendatang dari Selatan di ujung kaki pulau Sulawesi ini, citizen jurnalist reporter yang selama ini aktif di panyikul.com, Kamaruddin Azis mencoba membaca ulang hubungan-hubungan sosial budaya tersebut dengan mengamati geliat masyarakat Bajo di satu desa pesisir di bagian timur kota ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara. Berikut ulasanya

Setelah diguyur hujan semalam, pagi itu Kota Kendari sedang cerah. Kami meninggalkan kota menuju arah pesisir timur. Setelah melewati Kampung Salo dan Kessi Lampe, pandangan kami tertuju pada pohon-pohon bakau yang rindang dan padat. Pohon-pohon yang menghijau di sepanjang teluk Kendari. Pemandangan itu menjadi tak biasa karena vegetasi ini memang teramat langka dijumpai di kota lainnya.

Pohon bakau terlihat tinggi da…