Kapal Pukat Harimau Menyerbu, Nelayan Lokal Menjerit

Kapal bertonase sedang  kini banyak beroperasi diperairan laut sulawesi tenggara, Diduga kapal-kapal tersebut menggunakan pukat harimau. Foto: Yos Hasrul/ Greenpress 

Baso dongkol. Wajah pria parobaya ini masam, saat melihat sampannya masih kosong melompong. Sudah seharian Ia memelototi kailnya, tapi tak juga kunjung disambar ikan. “Pada ke mana semua  ikan-ikan ini?,”katanya pelan. Ia berkali-kali berpindah lokasi pancingan, tapi tetap ikan tidak juga diperolehnya. 

 
Tak hanya Baso, Usman rekan Baso juga bernasib serupa. “Saya hanya dapat tiga ekor ikan putih kecil,”katanya sambil memperlihatkan ikan yang didapatnya. Kedua nelayan asal pulau wawonii ini hanya bisa pasrah, pulang dengan hasil minim. Sudah seminggu dewi fortuna tidak memihak kedua nelayan ini.

Wajar para nelayan tradisional di Sulawesi Tenggara ini mengeluh, sebab hari-hari  belakangan kapal-kapal yang menggunakan pukat harimau marak beroperasi di perairan Kendari.

Kapal-kapal dari luar Kendari kini kian ‘bebas’ menangkap ikan menggunakan pukat harimau. Kapal itu biasa beroperasi di perairan luar Kendari seperti Moramo dan Pulau Wawoniui. Mereka memasang rumpon-rumpon di tengah laut untuk bersarang ikan. Kapal beroperasi pada malam hari dengan memasang lampu di atas rumpon-rumpon itu. Ikan yang berkumpul di bawah rumpon dikepung menggunakan pukat harimau dan diangkat ke kapal.
foto: Yos Hasrul/Greenpress

Kondisi ini menyebabkan nelayan tradisional semakin terjepit. "Kalau kapal-kapal pukat harimau tidak ditertibkan, nasib nelayan di Kendari  akan hancur dalam dua tahun ke depan. Hasil ikan terus berkurang dan biaya operasional terus naik. Kami semakin terjepit," ujar Baso.

Ia berharap, penegakan hukum terhadap kapal-kapal pengguna pukat harimau ditingkatkan.Kapal-kapal itu menghabiskan ikan-ikan yang seharusnya menjadi tangkapan nelayan tradisional dengan peralatan terbatas. 

Saat gencar-gencarnya berita tentang pukat harimau, kapal-kapal yang didiuga asal Sulawesi Selatan itu tetap beroperasi."Masalah terbesar bagi nelayan di sini tetap penggunaan pukat harimau karena menghabiskan ikan. Kalau tidak ada pukat harimau, modal harga bahan bakar masih bisa ditutupi dengan hasil tangkapan," ujar Baso.

Tak hanya nelayan kecil seperti Baso dan Usman yang mengeluh. Sejumlah nelayan tangkap di pelabuhan kendari juga meratap. Pasalnya saat ini rata-rata nelayan hanya bisa memperoleh ikan sekitar 500 ekor cakalang dengan berbagai ukuran. Seharusnya nelayan bisa menangkap kurang lebih  3000 ekor dalam waktu 4 -6 hari melaut. Hasil yang minim itu tertolong oleh harga ikan cakalang yang sedang bagus menyusul cuaca buruk akhir-akhir ini. Harga berkisar Rp 5.000 hingga Rp 12 ribu per ekor di tingkat nelayan.

Biaya operasional untuk satu minggu naik Rp 2 juta-Rp 3 juta tehitung  harga bahan bakar minyak. Kapal penangkap membutuhkan 10 drum minyak harganya Rp 13 juta yang harus dibeli di luar SPBU. Es pengawet ikan empat ton biayanya Rp 1,5 juta. Biaya air bersih dan konsumsi anak buah kapal sekitar Rp 2 juta. 

foto: yoshasrul/kendarikita.com
Selain soal pukat harimau, nelayan lokal kian terpukul sejak kelangkaan BBM jenis solar kian menggila.  "Sejak solar langka, kami terpaksa harus membeli secara eceran . Nelayan katanya boleh membeli bahan bakar bersubsidi tetapi kenyataanya kita harus beli eceran dengan harga tinggi," ujar Rahmat, seorang nelayan tangkap di Kendari.

Saat musim angin timur seperti saat ini, Rahmat (38 tahun), yang juga nahkoda kapal penangkap ikan tuna, konsumsi bahan bakar lebih boros. Kapal harus memindahkan lokasi pencarian ikan dari Wawonii ke Utara Saponda yang gelombang relatif kecil.
Seperti diketahui pukat harimau atau Trawl adalah sejenis pukat yang besar digunakan untuk menjaring banyak ikan dalam waktu singkat. Tak hanya ikan besar yang terjaring melainkan ikan-ikan kecil hingga bibit ikan karena lubang pukat yang sangat kecil membuat ikan-ikan kecil tidak bisa lolos. Kondisi ini sangat membahayakan kelangsungan populasi ikan  di lautan karena tidak mampu melakukan budidaya. Saat terjaring ikan-ikan kecil akan mudah mati,.

Sejumlah Negara di sudah mengeluyarkan aturan yang melarang penggunaan pukat harimau. Indon esiasendiri sudah melakukan pelarangan penggunaan pukat harimau sejak tahun 1980lewat Kepres Nomor 39 tahun 1980. Kendati sudah ada pelarangan namun masih ada saja nelayan  yang menggunakan pukat harimau, salah satunya di perairan sulawesi tenggara. (Yos Hasrul)
Share on Google Plus

About MJ Channel

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: